
Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Kisah ini sering viral di medsos, terutama saat jelang Hari Raya Idul Adha dengan judul _*Halal Bagiku, Haram Bagimu*_. Tapi penulis mengambil judul seperti di atas sesuai dengan kandungan isi cerita, meskipun kisahnya sedikit panjang.
Suatu saat sebagaimana dalam Kitab _Ihya’ Ulumuddin_, ketika Abdulloh bin Mubarok selesai menyempurnakan ibadah haji dan pulang ke rumah, dia tertidur. Di dalam tidurnya dia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan melakukan dialog.
Salah satu dari Malaikat itu bertanya kepada Malaikat yang lainnya : _*”Berapa banyakkah orang yang berhaji pada tahun ini”*_?
_*”Enam ratus ribu orang”*_. Jawab Malaikat yang satunya.
_*”Diantara para jamaah haji sebanyak itu, berapa orang yang diterima ibadahnya”*_ Tanyanya lagi.
_*”Tak seorangpun yang diterima ibadahnya”*_. Jawabnya.
Setelah mendengar dialog kedua Malaikat itu, tubuh Abdulloh bin Mubarok gemetar dan langsung teenangun.
_*”Apa?”*_. Tanya seorang Malaikat penuh heran.
_*”Bukankah mereka telah datang dari pelosok-pelosok yang jauh dari setiap lembah yang dalam ( *fajjin ‘amiiq* فج عميق ) dengan susah payah, mereka melintasi padang pasir yang luas dan menyeberangi lautan, namun semua itu sia-sia!”*_?.
Salah seorang dari Malaikat itu menjawab : _*”Ya, tapi ada seseorang tukang sol sepatu di Damaskus (Syam) yang bernama *Ali bin Muwaffiq*. Dia tidak datang ke tanah suci, tetapi ibadah hajinya diterima dan diterima semua ibadah haji para jamaah dan segala dosanya diampuni اَللّهُ ﷻ”*_
Setelah mendengar hal itu, Abdulloh bin Mubarok terjaga dan berkata : _*”Aku harus pergi ke Damaskus untuk menemui Ali bin Muwaffaq”*_.
Maka, Abdulloh bin Mubarok pergi dari Baghdad menuju Damaskus untuk mencari tempat tinggal Ali bin Muwaffaq. Setelah sampai di Damaskus Abdulloh bin Mubarok menyeru sambil memanggil nama Ali bin Muwaffaq. Lalu salah seorang dari penduduk itu mendekat. Abdulloh bin Mubarok bertanya : _*”Siapa namamu dan apakah pekerjaanmu”*_.
_*”Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu”*_ Jawabnya.
Orang itu balik beritanya : _*”Siapa namamu”*_.
_*”Abdulloh bin Mubarok”*_. Jawabnya.
Mendengar nama Abdulloh bin Mubarak, Ali bin Muwaffaq menjerit, lalu jatuh pingsan. Setelah dia siuman, Abdulloh bin Mubarok mendesaknya untuk menceritakan kejadian sesungguhnya.
Kemudian Ali bin Muwaffaq bercerita : _*”Tiga puluh tahun lamanya, aku bercita-cita ingin menunaikan ibadah haji. Dari pekerjaan membuat sepatu itu, aku telah berhasil menabung uang sebanyak tiga ratus lima puluh ribu dirham. Aku telah bertekad untuk menunaikan ibadah haji tahun ini juga. Ketika itu istriku sedang ngidam dan terciumlah bau makanan dari rumah tetangga sebelah.
_*”Mintakanlah sedikit makanan itu untukku”*_. Istriku memohon kepadaku.
Akupun pergi lalu mengetuk pintu rumah tetangga itu dan mengatakan hal yang sesungguhnya terjadi. Tetapi tetangga itu tiba-tiba menangis, kemudian berkata : _*”Tiga hari lamanya anak-anakku tidak makan. Tadi siang ketika aku berjalan, ada seekor ayam yang mati tergeletak, lalu aku mengambilnya untuk dibawa pulang dan dimasaknya. Makanan ini tidak halal bagimu, tapi halal bagiku”*_.
_*”Aku sangat sedih mendengar cerita tetangga tersebut”*_. Kata Ali bin Muwaffaq.
_*”Maka, segera aku pulang dan kuambillah tabunganku yang berjumlah tiga ratus lima puluh ribu dirham itu dan kuserahkan semua kepadanya. Gunakanlah uang ini untuk keperluan anak-anakmu”*_.
Pesanku. _*”Inilah ibadah hajiku, di pintu tetangga”*_.
Inilah yang menyebabkan seluruh jama’ah ibadah haji tahun itu diterima ibadahnya, disebabkan oleh orang yang telah berniat haji, namun tidak jadi berangkat karena tak tega melihat tetangga yang kelaparan.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Selasa, 12 Mei 2026
25 Dzul Qoidah 1447 H
