Swanara – Memasuki bulan Dzulhijjah, kami coba *menulis kembali* sejarah asal usul pelaksanaan _ibadah haji_ yang kami tulis secara berseri. Bagi yang pernah baca tulisan ini tahun lalu, semoga dapat menambah pengetahuan tentang haji.
♾️♾️♾️♾️♾️♾️♾️♾️
Dikisahkan bahwa setelah Nabi Ibrahim dan Siti Sarah berumah tangga selama 36 tahun keduanya belum juga dikaruniai keturunan, Siti Sarah ber’itikad untuk merubah keadaan. Saat itu Nabi Ibrahim berusia 83 tahun dan Siti Sarah berusia 73 tahun.
Perubahan keadaan yang dimaksud adalah dengan memberikan saran kepada Nabi Ibrahim supaya menjadikan budak perempuannya, Siti Hajar, sebagai istri keduanya supaya Nabi Ibrahim mendapatkan keturunan dari Siti Hajar.
Namun dalam perjalanan rumah tangga pasti akan ada konflik antara dua istri dari seorang pria. Hal ini bisa terjadi bila kedua istri tidak menganggap diri mereka sejajar apalagi istri kedua Nabi Ibrahim, Siti Hajar, adalah budak Siti Sarah.
Konflik mulai terjadi tatkala Siti Hajar mengandung anak dari Nabi Ibrahim, sementara Siti Ssrah tidak juga ada tanda-tanda hamil. Hal ini yang membuat Siti Sarah sering merasa cemburu terhadap Siti Hajar. Kecemburuan Siti Sarah sering dilampiaskan dengan kekesalan.
Dengan mulai meningkatkannya konflik antara Siti Sarah dan Siti Hajar, ada rasa tertekan dari diri Siti Hajar yang membuatnya berniat untuk kabur. Apalagi Siti Sarah yang masih menganggap bahwa Siti Hajar adalah budaknya.
Akhirnya Siti Hajar, dalam keadaan hamil lari meninggalkan Siti Sarah menuju tempat yang jauh sekitar 122 km hingga 130 km. menuju _Padang Zin_ di daerah Syam karena disitu dilihatnya ada sumber air.
Bisa dibayangkan bagaimana kondisi Siti Hajar melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani seorang pun, apalagi Siti Hajar dalam kondisi hamil. Perjalanan yang penuh dengan resiko, rintangan alam, dan perjalanan yang belum pernah dilaluinya.
Ketika Siti Hajar berada dekat dengan mata air tersebut, satu Malaikat datang menjumpainya dan menanyakan perjalanan yang akan ditempuhnya. Siti Hajar kemudian menceritakan konfliknya dengan Siti Sarah. Sebagai reaksi, Malaikat itu menyampaikan bahwa Siti Hajar sedang hamil. Malaikat pun meminta kepada Siti Hajar untuk kembali dan meminta agar anak yang dikandungnya dinamakan *_Ismail_* yang berarti *_Allah Mendengar_*. Dari perjumpaan dengan Malaikat dan merasakan kondisi yang dialaminya, Siti Hajar akhirnya memutuskan kembali ke Hebron untuk berkumpul bersama Nabi Ibrahim dan Siti Sarah.
Secara bahasa Hajar berarti *_melarikan diri, berpindah_ ( هجر).* Namun tak diketahui *apakah Siti Hajar mendapatkan namanya yang kemudian dikenal oleh generasi-generasi berikutnya dari pelariannya* ataukah *nama itulah yang akhirnya menjadi kosa kata Bahasa Arab yang berarti lari (hijrah).*.
——–+++++++———
*Catatan Referensi :*
_1_. _Kitab Hidayah wan Nihayah_ karya Al-Hafidz Ibnu Katsir,
_2_. _Sejarah Dari Nabi Adam hingga Nabi Isa_ karya _Sayid Ni’matullah Al-Jazairi,
_3_. _Ibrahim Kekasih Allah_, Karya _Dr.Jerald F. Dirk_ sejarawan Barat yang akhirnya memeluk Islam setelah menyandingkan kandungan Al-Qur’an dan Bible.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Rabu, 13 Mei 2026
26 Dzul Qoidah 1447
Bersambung…
