
Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Thawaf, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali adalah ritual sentral dalam ibadah haji dan umrah. Gerakan yang berlawanan dengan arah jarum jam ini bukan sekadar putaran fisik, melainkan sebuah gerakan spiritual yang sarat makna dan mencerminkan kepatuhan mutlak hamba kepada Khaliknya.
Pertanyaannya adalah : _*”Mengapa harus tujuh putaran?”*_
Thawaf memiliki dimensi sejarah yang dalam dan makna filosofis yang abadi, mengajarkan esensi tauhid dan perjalanan spiritual yang tiada henti menuju kesempurnaan.
Menurut riwayat, di langit terdapat _Baitul Ma’mur_, yaitu Ka’bah di alam malaikat, yang selalu dikelilingi oleh para malaikat. Thawaf di Ka’bah di bumi ini merupakan representasi spiritual dari pergerakan kosmik tersebut. Ini menyiratkan bahwa Thawaf adalah ibadah alam semesta. Manusia yang berthawaf sedang menyelaraskan diri dengan gerakan ibadah para malaikat di langit.
Adapun makna Filosofis Angka 7 memiliki kedudukan istimewa, tidak hanya dalam syari’at Islam tetapi juga dalam kosmos dan sejarah nabi-nabi. Angka 7 sering melambangkan kesempurnaan atau tahapan lengkap.
Allah menciptakan tujuh lapis langit. Tujuh hari dalam sepekan. Perjalanan Sa’i dilakukan tujuh kali. Jumlah kerikil yang dilontar di Jamarat pada setiap tiang adalah tujuh.
Dalam konteks Thawaf, tujuh putaran melambangkan tujuh tingkatan yang harus dilalui seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada الله dari meninggal dosa hingga mencapai puncak ketaatan.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Kamis, 07 Mei 2026
18 Dzul Qoidah 1447 H
