KESUNNAHAN DALAM THOWAF


Oleh : Ibnu Hajar Mahbub

Di dalam Kitab Fiqih _Al-Mahalli_ dijelaskan beberapa kesunnahan dalam melakukan thowaf, antara lain :

_*Sunnah*_ dalam thowaf dilakukan dengan berjalan kaki dan tidak naik kendaraan kecuali ada udzur yang dibenarkan secara syar’i.

_*Sunnah*_ mengusap _Hajar Aswad_ di awal thowaf dan menciumnya dengan meletakkan dahi di atasnya.

Namun jika tidak mampu mencium dan meletakkan dahi karena berdesak-desakanya jama’ah, maka cukup menyentuh dengan tangan lalu tangan tersebut dicium.

Dan jika tidak mampu juga untuk menyentuhnya, maka cukup berisyarat dengan tangan atau tongkatnya, tapi tidak berisyarat mencium dengan mulutnya.

_*Sunnah*_ berdo’a dengan do’a apa yang dikehendaki dalam seluruh putaran thowaf. Namun do’a yang _ma’tsur_ yang diajarkan RosuluLLOH lebih utama daripada do’a lainnya

_*”Sunnah berjalan dengan cepat pada tiga putaran pertama, sedang pada putaran yang tersisa dilakukan dengan langkah sedang dan berjalan biasa”*_

_*”Andaikan seseorang lupa berjalan cepat pada putaran pertama sampai ketiga, maka tidak perlu mengqodlo dengan jalan cepat pada putaran keempat. Karena empat putaran tersebut memiliki karakter tenang sehingga tidak perlu dirubah”*_.

_*Sunnah*_ melakukan thowaf secara _muwalah_ (terus menerus). Artinya dalam melakukan thowaf, jika tidak ada udzur tidak boleh ada jeda dengan waktu istirahat yang lama.

_*Sunnah*_ selesai thowaf melakukan sholat dua raka’at di belakang _Maqom Ibrahim_. Pada raka’at pertama membaca _Surat Al-Kafirun_ dan pada raka’at kedua membaca _Surat Al-Ikhlas_.

Setelah selesai sholat thowaf dua raka’at, kemudian keluar dari _Shofa_ untuk melakukan _Sa’i_ antara Bukit Shofa dan Marwah

والله اعلم بالصواب

Pondok Aren
Rabu, 06 Mei 2026
18 Dzulqaidah 1447 H

scroll to top