
Oleh : _Ibnu Hajar Mahbub_
Suatu saat Imam Malik berkata kepada Imam Syafi’i : _*“Sesungguhnya rizqi itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada اَللّهُ ﷻ, niscaya اَللّهُ ﷻ akan memberikan rizqi. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya”*_.
Imam Syafi’i bertanya kepada gurunya _*“Wahai guru, jika seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia mendapat rizqi ?”*_..
Guru dan murid itupun tetap teguh dalam pendapatnya masing-masing.
Suatu ketika Imam Syafi’i pergi berjalan-jalan dan melihat sekelompok petani sedang memanen buah anggur. Melihat itu Imam Syafi’i membantu mereka.
Setelah pekerjaannya selesai, Imam Syafi’i menerima imbalan berupa beberapa ikat anggur. Imam Syafi’i senang bukan karena mendapat anggur, tapi karena hadiah itu menguatkan pendapatnya bahwa jika ingin mendapatkan rizqi harus berusaha keluar rumah terlebih dahulu.
Imam Syafi’i akhirnya bergegas menemui gurunya Imam Malik. sambil meletakkan semua anggur yang didapatnya, beliau menceritakan ihwal tersebut dan berkata : _*”jika saya tidak keluar dari gubuk dan melakukan sesuatu, membantu memanen, tentu anggur tidak akan pernah sampai ke tangan saya”*_.
Mendengar perkataan Imam Syafi’i, Imam Malik tersenyum sambil mengambil anggur dan mencicipinya.
Kemudian Imam Malik berkata dengan lembut : _*”Hari ini saya tidak keluar, hanya mengambil pekerjaan sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah baiknya jika di hari yang panas ini saya bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakanku beberapa buah anggur segar. Bukankah ini juga bagian dari rizqi yang datang tanpa alasan. Cukup dengan tawakkal kepada اَللّهُ ﷻ , pasti اَللّهُ ﷻ akan memberikan rizqi. Lakukan bagianmu, lalu biarkan اَللّهُ ﷻ yang mengurus sisanya”*_.
Akhirnya, guru dan murid itu saling tertawa. Begitulah cara para ulama melihat perbedaan, bukan dengan menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapat mereka.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Sabtu, 25 April 2026
07 Dzul Qoidah 1447 H
