Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Seperti pada serial sebelumnya bahwa Nabi Ibrahim dikeluarkan ibunya dari dalam guwa yang berada di wilayah Kota Ur, Mesopotamia Irak saat matahari tenggelam, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur’an dalam Surat Al-An-am, ayat 76-79. Saat itu Nabi Ibrahim melihat sebuah bintang. Lalu beliau berkata : _*”Inilah Tuhanku. Akan tetapi tatkala bintang itu tenggelam, beliau berkata : Aku tidak suka yang tenggelam”*_.(QS Al-An’am : Ayat 76).
Kemudian Nabi Ibrahim memandang ke arah timur, beliau melihat bulan terbit, beliau berkata : _*”Inilah Tuhanku, tetapi setelah bulan itu juga tenggelam, beliau berkata : “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang tersesat”*_ (QS : Al-An’am, Ayat 77).
Tatkala masuk pagi dan matahari telah terbit, beliau berkata : _*”Inilah Tuhanku, inilah yang lebih besar. Tetapi tatkala matahari itu juga tenggelam, beliau berkata : ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan kami hanifan condong kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”*_ (QS : Al-An’am, Ayat 78).
Jika kita coba membuka al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 76-78 di atas, ketika berbicara tentang bintang dan rembulan, الله menggunakan kalimat مذكر seperti firman-Nya بازغا dan افل, tetapi ketika berbicara tentang matahari digunakan kalimat مؤنث seperti kalimat بازغة dan افلت. Apakah ini berarti bintang dan rembulan adalah lelaki dan matahari perenpuan?
Ketahuilah, bahwa kata شمس (matahari) dalam bahasa Arab itu termasuk _muannats majazi_ (muannats secara lafazh), bukan karena dia perempuan.
Sedangkan *قمر* (rembulan) dan *كوكب* (bintang) itu _mudzakkar_., bukan pula berarti rembulan dan bintang adalah lelaki.
Setelah pencarian Tuhannya melalui benda-benda alam di atas ufuq tidak ditemui. Nabi Ibrahim pulang untuk menemui ibunya di rumah dan menceritakan fenomena alam yang dilihatnya di waktu malam dan pagi hari.
Sudah pasti Nabi Ibrahim kecewa dengan tradisi kehidupan masyarakat _Kota Ur_ yang dalam kesehariannya melakukan persembahan terhadap dewa dan benda-benda alam yang diimplementasikan dalam bentuk patung dan berhala-berhala.
Kekecewaan Nabi Ibrahim terhadap sesembahan patung dan berhala-berhala, timbul fikiran untuk menghancurkan patung dan berhala-berhala tersebut.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Sabtu 16 Mei 2026
29 Dzul Qaidah 1447 H
