Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Suatu saat ketika warga _Kota Ur Mesopotamia_ merayakan hari raya keagamaannya, Namrudz dan semua rakyatnya keluar rumah menuju lapangan untuk menyambut hari raya tersebut. _*”Namun Nabi Ibrahim enggan keluar dengan alasan sakit”*_ (QS : As-Shoffat, Ayat 89).
Ketika mereka semua telah pergi ke luar, Nabi Ibrahim mengambil makanan dan kampak di tangannya, lalu membawanya masuk ke dalam kuil tempat sesembahan mereka. Beliau mendekati satu persatu berhala itu, sambil berkata : _*”Makanlah dan berbicaralah !”*_.
Jika berhala-berhala itu tidak menjawabnya, Nabi Ibrahim mengambil kapak lalu menghacurkan tangan dan kaki berhala-berhala itu dengan kampaknya, hingga merusakkan semua berhala yang ada. Hanya ada satu berhala paling besar yang disisakan, kemudian beliau menggantungkan kapak tersebut pada leher _Sin_, nama berhala terbesar yang tidak dihancurkan.
Ketika Namrudz bersama seluruh rakyatnya pulang dan bermaksud hendak menuju kuil tempat penyembahan mereka, dilihatnya berhala-berhala itu telah hancur berantakan, hanya tersisakan satu berhala terbesar yang masih utuh.
Namrudz berkata : _*”Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami?. Sesungguhnya dia termasuk orang yang lalim”*_ (QS: Al-Anbiya, Ayat 59).
Ada diantara mereka yang hadir berkata : _*Kami mendengar di kota ini ada seorang pemuda yang suka mencaci maki sesembahan kita, dia adalah Ibrahim”*_.(QS : Al-Anbiya, Ayat 60).
Maka, Namrudz memanggil _Amila_, ibu Nabi Ibrahim sambil bertanya : _*”Mengapa engkau menyembunyikan kelahiran bayi laki-laki dari kalangan kita, sehingga dia melakukan perusakan terhadap sesembahan kita”*_?
Amila, menjawab : _*”Wahai raja, hal itu hamba lakukan karena hamba memikirkan rakyat Baginda”*_
Namrudz bertanya dengan penuh keheranan : _*Kenapa*_?
Amila menjawab : _*”Sebab hamba melihat Baginda membunuh semua anak laki-laki dari rakyat Baginda sendiri, yang akan menghilangkan keturunan. Oleh karena itu, hamba menyembunyikan anak hamba ini (sambil menunjuk Nabi Ibrahim) agar tidak semua bayi laki-laki yang terlahir Baginda Raja bunuh, sehingga ada tersisa bayi laki-laki yang akan meneruskan keturunan”*_.
Begitulah cara الله menyelematkan hamba-hamba pilihan-Nya. Nabi Musa الله selamatkan dari pembunuham yang dilakukan oleh Raja Fir’aun terhadap semua bayi laki-laki yang terlahir dengan cara dilarungkan ke sungai oleh ibunya.
Maka, Raja Namrudz menghentikan pembunuhan terhadap bayi laki-laki yang lahir.
Namun Raja Namrudz tetap menghukum Nabi Ibrahim atas kesalahannya yang telah menghanckan berhala-berhala sesembahan mereka.
Raja Namrudz kemudian memanggil pembesar-pembesar kerajaan untuk mendiskusikan hukuman apa yang patut diberikan kepada Nabi Ibrahim atas perbuatannya menghancurkan patung dan berhala-berhala sesembahan mereka.
_Bersambung_
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Ahad, 17 Mei 2026
30 Dzul Qaidah 1447 H
