
Oleh : _Ibnu Hajar Mahbub_
Menurut bahasa, mabit berarti bermalam. Secara istilah, mabit di Muzdalifah adalah jemaah bermalam di Muzdalifah. Tetapi tidak mengapa, jika keadaan tidak memungkinkan maka sekedar berdiam diri sejenak atau sekedar melintas saat malam di Muzdalifah untuk memenuhi ketentuan manasik haji.
Mabit di Muzdalifah ini dilakukan setelah jemaah melakukan wukuf di Arafah. Pada tanggal 9 Zulhijjah, setelah matahari terbenam, jemaah mulai meninggalkan Arafah untuk menuju Muzdalifah.
Muzdalifah atau disebut juga _Al-Masy’ar al Haram_ adalah sebuah tempat yang berada di dekat Mina. Hal ini tercermin dari penamaan Muzdalifah yang berasal dari kata ازدلف (_izdilâf_) yang berarti الاقترب (al-iqtirâb/mendekat) atau الاجتماع (_al-ijtimâ’/berkumpul_).
Saat _mabit di Muzdalifah_ jama’ah mengambil batu kerikil di malam hari. Jumlah kerikil yang diambil adalah 7 kerikil untuk lempar jumroh aqobah di _Hari Nahr_(10 Dzulhijjah) dan 70 kerikil untuk melempar di _Hari Nahr dan Hari Tasyrik_ (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Setelah _mabit di Muzdalifah_ jamaah bergerak menuju Mina untuk melempar jumroh. Jarak Muzdalifah ke Mina kira-kira berjarak 2 km.
Sebelum sampai Mina dan sampai di _Masy’aril Haram_ yaitu bukit di bagian akhir Muzdalifah jama’ah disunnahkan berhenti dan berdo’a sambil menghadap qiblat sampai waktu shubuh menjadi terang, baru kemudian berjalan menuju Mina.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Senin, 04 Mei 2026
16 Dzulqaidah 1447 H
