Banyumas — Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas baru saja merilis laporan komprehensif hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk Tahun Ajaran 2025/2026.
Hasil evaluasi makro ini memicu sorotan tajam, baik karena keberhasilan gemilang jajaran sekolah swasta di puncak prestasi, maupun adanya ketimpangan capaian yang sangat kontras antara kompetensi literasi bahasa dan numerasi matematika siswa di daerah tersebut.
Berdasarkan data resmi yang dihimpun, pemetaan capaian akademik memunculkan nama SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto sebagai peringkat pertama di tingkat kabupaten dengan perolehan nilai rata-rata total mencapai angka fantastis, yaitu 137,61.
Menyusul ketat di posisi kedua, SMP Susteran Purwokerto mengamankan tempat dengan skor 136,00, disusul oleh SMP Boarding School Al Irsyad Al Islamiyyah di peringkat ketiga dengan nilai 134,53.
Dominasi Mutlak Lembaga Swasta
Fenomena yang paling menarik perhatian dari rilis TKA tahun ini adalah dominasi mutlak yang ditunjukkan oleh lembaga pendidikan swasta. Dari daftar 10 besar sekolah dengan rata-rata akumulatif tertinggi di Kabupaten Banyumas, tujuh di antaranya merupakan sekolah berstatus swasta (S).
Lembaga-lembaga ini berhasil menyapu bersih posisi tiga besar, serta mengamankan berbagai posisi strategis lainnya di papan atas, bersanding dengan segelintir sekolah negeri unggulan seperti SMP Negeri 2 Purwokerto yang berada di peringkat keempat dengan nilai 134,21.
Berikut daftar lengkap 10 besar sekolah dengan perolehan nilai tertinggi:
1. SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto — 137,61
2. SMP Susteran Purwokerto — 136,00
3. SMP Boarding School Al Irsyad Al Islamiyyah — 134,53
4. SMP Negeri 2 Purwokerto — 134,21
5. SMP Telkom Purwokerto — 132,20
6. SMP MBS Zam-Zam Cilongok — 129,53
7. SMP 3 Bahasa Putera Harapan — 127,63
8. SMP Negeri 1 Ajibarang — 127,49
9. SMP UMP Purwokerto — 127,37
10. SMP Negeri 1 Wangon — 126,15
Kesenjangan Ekstrem: Literasi Kuat, Numerasi Anjlok
Di balik gemerlap prestasi sekolah-sekolah di papan atas, laporan TKA kali ini menyimpan catatan evaluasi yang mendalam pada aspek performa mata pelajaran.
Terjadi disparitas atau jurang pemisah yang sangat lebar antara penguasaan materi Bahasa Indonesia dan Matematika di kalangan siswa.
Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, tingkat literasi siswa terpantau berada pada kategori yang memuaskan.
Skor tertinggi di kabupaten menyentuh angka 85,00, dengan batas nilai terendah yang relatif terjaga di angka 43,07. Secara akumulatif, sebanyak 37% dari total peserta ujian berhasil meraih predikat “Baik”, di mana nilai rata-rata kelompok ini sukses menembus kisaran angka 80-an.
Kondisi sebaliknya justru terjadi pada ranah numerasi. Hasil ujian Matematika menunjukkan indikator yang mengkhawatirkan.
Nilai tertinggi di seluruh kabupaten untuk pelajaran eksakta ini hanya mampu menyentuh angka 55,69 — sebuah skor yang bahkan belum mencapai batas optimal ideal.
Lebih memprihatinkan lagi, nilai terendah anjlok hingga menyentuh angka 30,00.
Analisis makro dinas mengungkap bahwa mayoritas absolut siswa, yakni sebesar 71%, tertahan di tingkat penguasaan yang sekadar “Memadai”. Sangat kontras, persentase siswa yang mampu menembus pencapaian predikat “Istimewa” dalam Matematika tercatat hanya sebesar 0,02%. Data ini menegaskan adanya krisis penguasaan konsep dasar numerasi yang bersifat masif di tingkat kelulusan SMP.
Merespons ketimpangan hasil yang cukup mencolok ini, para pengamat dan pemangku kebijakan pendidikan di Kabupaten Banyumas merumuskan dua rekomendasi utama sebagai langkah tindak lanjut yang mendesak:
Penguatan Kompetensi Numerasi: Langkah ini harus direalisasikan melalui program pelatihan intensif dan terstruktur bagi seluruh guru mata pelajaran Matematika di tingkat SMP.
Fokus utamanya adalah mereformasi metodologi pengajaran agar pembelajaran di kelas berjalan lebih interaktif, kontekstual, dan mudah dipahami oleh siswa guna mendongkrak efektivitas penyerapan ilmu.
Benchmarking Sekolah Unggulan: Dinas Pendidikan mendorong dilaksanakannya program kolaborasi antar-sekolah.
Sekolah-sekolah yang masih berada di papan bawah atau mandek secara prestasi didorong untuk melakukan studi banding dan mengadopsi metode belajar yang diterapkan oleh sekolah-sekolah yang masuk dalam peringkat 10 besar terbaik.
Dengan adanya transfer pengetahuan ini, diharapkan terjadi pemerataan kualitas pendidikan yang inklusif di seluruh wilayah Kabupaten Banyumas pada tahun-tahun ajaran mendatang.(Red)
