Oleh : _Ibnu Hajar Mahbub_
Ketika Nabi Ibrahim yang saat itu menurut satu riwayat berusia antara 13-16 tahun, sebagaimana sebutan _fatan (فتى_) dalam Surat Al-Anbiya’, ayat 60, berhasil menghancurkan semua berhala-berhala sesembahan masyarakat; _Ur Mesopotamia_, kecuali satu berhala terbesar yang tidak dihancurkan,
Sang raja kemudian memanggil Nabi Ibrahim untuk diinterogasi. Raja Namrudz bertanya : _*”Siapakah yang melakukan perbuatan menghancurkan tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim ?”*_ (QS : Al-Anbiya’, Ayat 59).
Nabi Ibrahim menjawab : _*”Sebenarnya patung terbesar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepadanya jika mereka dapat berbicara'”*_. (QS : Al-Anbiya, Ayat 63).
Merasa terpojokkan dengan jawaban Nabi Ibrahim, Raja Namrudz kemudian bermusyawarah dengan para pembantunya tentang hukuman apa yang sepatutnya diberikan kepada Nabi Ibrahim. Mereka menjawab : _*”Bakarlah dia, mintalah bantuan kepada Tuhan Ibrahim, jika Tuhannya benar-benar dapat bertindak”*_ (QS : Al-Anbiya, Ayat 68).
Setelah mendengar saran dari para pembantunya. Raja Namrudz memenjarakan Nabi Ibrahim, sementara rakyatnya disuruh mengumpulkan kayu untuk membakarnya.
Tatkala kayu telah terkumpul dan api telah dinyalakan, api berkobar dengan besarnya, mereka kesulitan untuk melemparkan Nabi Ibrahim ke dalam api tersebut karena besarnya nyala api tersebut, sehingga tidak ada satu orangpun yang berani mendekati api, bahkan burung yang terbang dari kejauhan dengan jarak 8 km akan mati terkapar karena panasnya api.
Tiba-tiba datanglah _Iblis_ kepada Raja Namrudz yang menyarankan agar dibuatkan _manjanik_ (semacam alat pelempar jarak jauh) .
Ketika Nabi Ibrahim hendak dilemparkan ke dalam api, الله berkata kepada Malaikat Jibril : _*”Wahai Jibril, susullah hamba-Ku_*”.
Maka dalam sekejap Malaikat Jibril turun dari bawah Arsy untuk menemui Nabi Ibrahim sambil berkata : _*”Wahai Kholilulloh, apakah engkau memiliki kebutuhan terhadapku”*_.?
Nabi Ibrahim menjawab : _*”Jika kepadamu tidak, namun kepada اَللّهُ Tuhan seru sekalian alam, aku membutuhkan-Nya”*_
Para ulama menjelaskan seandainya Nabi Ibrahim mengiyakan permintaan Malaikat Jibril, hanguslah badan beliau di dalam api. Namun atas bimbingan اَللّهُ ﷻ, Nabi Ibrahim menolak bantuan _Malaikat Jibril_. dan tetap bertawakkal kepada الله sehingga terselamatkanlah Nabi Ibrahim di dalam api.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Senin, 18 Mei 2026
01 Dzulhijjah 1447 H
