Ghatib Beghanyut 2026: Menolak Bala, Menjemput Tuah, Merawat Adat dan Memperkuat Persaudaraan

IMG-20260814-WA0146.jpg

SIAK, swanara.com – Tradisi Ghatib Beghanyut kembali digelar masyarakat Melayu Siak Sri Indrapura, Kamis (13/8/2026), bertepatan dengan 29 Safar 1448 Hijriah. Tradisi keagamaan sekaligus adat budaya Melayu ini dilaksanakan melalui zikir dan doa bersama di atas kapal dan perahu yang menyusuri Sungai Siak, yang secara turun-temurun dikenal masyarakat Melayu sebagai Sungai Jantan.

Kegiatan tersebut menjadi momentum spiritual bagi masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memanjatkan doa demi keselamatan negeri, agar masyarakat Siak senantiasa dijauhkan dari bala, bencana, musibah, penyakit dan berbagai bentuk keburukan.

Turut hadir Wakil Bupati Siak Syamsurizal, Syekh H. Zulfikar selaku pimpinan Ghatib Beghanyut, Dandim 0322/Siak, Ketua Pengadilan Negeri Siak, pimpinan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak, alim ulama serta para tokoh masyarakat.

Bagi masyarakat Siak, Ghatib Beghanyut bukan sekadar tradisi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalamnya terkandung nilai keagamaan, kebersamaan dan kearifan lokal sebagai bentuk ikhtiar spiritual dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT agar negeri senantiasa berada dalam perlindungan-Nya.

Perjalanan kapal dan perahu mengikuti arus Sungai Siak memiliki makna simbolis. Arus yang membawa rombongan menuju hilir dimaknai sebagai doa dan ikhtiar agar segala marabahaya, penyakit serta keburukan dijauhkan dari negeri dan dibawa pergi menuju laut.

Lantunan zikir, takbir dan tahlil yang menggema di sepanjang perjalanan menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, ikhtiar lahiriah harus berjalan beriringan dengan ikhtiar batiniah melalui doa dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Siak Syamsurizal menyampaikan bahwa Ghatib Beghanyut merupakan warisan budaya leluhur yang sarat dengan makna spiritual dan kearifan Melayu.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan wujud kebersamaan dan kerendahan hati masyarakat dalam memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Dengan tema “Menolak Bala, Menjemput Tuah”, makna kegiatan tidak hanya sebatas menghindari musibah, tetapi juga mengajak masyarakat menjauhkan diri dari berbagai perbuatan yang dapat mendatangkan kemudaratan.

Sementara itu, menjemput tuah dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh untuk meraih keberkahan melalui jalan yang diridai Allah SWT.

Ghatib Beghanyut juga membawa pesan bahwa ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan dan kesulitan, kebersamaan, doa serta ikhtiar harus menjadi kekuatan bersama.

Rangkaian pelaksanaan Ghatib Beghanyut diawali dengan ziarah ke makam para sultan dan tokoh pendiri Siak.

Ziarah dilakukan di antaranya ke makam Raja Kecik di Buantan, makam Sultan Tengku Buwang Asmara di Mempura, makam Sultan Syarif Kasim II serta makam Koto Tinggi.

Ziarah tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pendahulu sekaligus pengingat bagi generasi saat ini bahwa perjalanan masyarakat Siak tidak dapat dipisahkan dari perjuangan para ulama, sultan, tokoh adat dan leluhur yang telah membangun negeri.

Pada malam pelaksanaan, rangkaian kegiatan dimulai selepas salat Isya. Para peserta berjalan dari Masjid Syahabuddin menuju Makam Koto Tinggi, kemudian melintasi kawasan depan Istana Siak hingga menuju Pelabuhan LLASDP.

Sepanjang perjalanan, suasana religius terasa melalui lantunan zikir yang mengiringi langkah para peserta.

Setibanya di pelabuhan, peserta menaiki kapal feri/Roro dan sejumlah perahu bermesin yang telah disiapkan untuk menyusuri Sungai Siak.

Dari atas kapal dan perahu, suara zikir, takbir dan tahlil menggema di tengah perjalanan hingga rombongan bergerak menuju kawasan Feri Penyeberangan Belantik, Desa Langkai.

Di tengah gelapnya malam dan luasnya Sungai Siak, lantunan kalimat-kalimat zikir menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam memohon keselamatan, keberkahan dan perlindungan kepada Allah SWT.

Bagi Pemerintah Kabupaten Siak bersama LAMR Kabupaten Siak, pelestarian Ghatib Beghanyut bukan semata-mata mempertahankan tradisi lama.

Lebih dari itu, tradisi ini menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, silaturahmi dan persatuan masyarakat.

Masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu suasana, duduk bersama, berzikir bersama dan berdoa bersama.

Nilai kebersamaan tersebut semakin penting di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat. Tradisi lokal yang memiliki nilai keagamaan menjadi salah satu cara untuk menjaga identitas masyarakat Melayu Siak sekaligus memperkuat hubungan sosial antarmasyarakat.

Di atas Sungai Siak, Ghatib Beghanyut membawa pesan sederhana namun mendalam: manusia boleh berikhtiar sekuat tenaga, tetapi keselamatan dan pertolongan pada akhirnya merupakan kehendak Allah SWT.

Arus sungai yang membawa kapal dan perahu menuju hilir menjadi simbol harapan agar segala bala dan keburukan dijauhkan dari negeri. Sementara lantunan zikir menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan.

Tradisi ini sekaligus mengajarkan bahwa menjaga negeri bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan merawat doa, akhlak, persaudaraan dan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.

Ghatib Beghanyut 2026 akhirnya bukan sekadar perjalanan puluhan kapal dan perahu menyusuri Sungai Siak. Ia merupakan perjalanan spiritual untuk mengingat sejarah, merawat adat, mempererat persaudaraan dan bersama-sama mengetuk pintu langit melalui doa.

Agus zega/ infotorial.

scroll to top