Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri bersama Pemerintah Kabupaten Bekasi menegaskan komitmen menjaga iklim ketenagakerjaan yang kondusif di kawasan industri strategis nasional.
Komitmen ini disampaikan dalam kunjungan kerja Dittipidter ke PT Yamaha Music Manufacturing Asia (YMMA).
Kegiatan tersebut dihadiri Subdit II Tipidter Bareskrim Polri serta Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Ida Farida, mewakili Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang, bersama jajaran manajemen PT YMMA.
Dalam sambutannya, Ida Farida mengapresiasi PT Yamaha Music yang dinilai berkontribusi besar terhadap perekonomian daerah. Ia menyebut, Pemkab Bekasi berkomitmen menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja dan kepastian usaha bagi pengusaha melalui upaya mediasi yang dilakukan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker).
“Kami menghormati langkah hukum yang ditempuh para pihak, namun pemerintah daerah mendorong penyelesaian dialogis dan bermartabat. Prinsipnya, hubungan industrial yang sehat harus menempatkan hak dan kewajiban secara proporsional,” ujarnya.
Ida juga menyampaikan apresiasi terhadap peran Dittipidter Bareskrim Polri yang aktif menjadi fasilitator dalam menjaga stabilitas hubungan industrial di kawasan industri nasional.
“Kehadiran Polri melalui Dittipidter tidak hanya dalam aspek penegakan hukum, tetapi juga membangun ruang komunikasi yang terbuka dan solutif. Ini bentuk nyata sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan aparat penegak hukum,” jelasnya.
Sementara itu, Kanit II Subdit II Dittipidter Bareskrim Polri, Kombes Pol Tri Wahyudi, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri yang menaruh perhatian besar terhadap isu ketenagakerjaan.
“Direktur kami sangat concern terhadap upaya menjaga iklim ketenagakerjaan yang sehat dan berkeadilan,” kata Tri, Jumat (24/10/2025).
Tri menjelaskan, Dittipidter telah membentuk desk ketenagakerjaan, forum kolaboratif yang melibatkan kepolisian, pemerintah pusat dan daerah, serikat pekerja, serta asosiasi pengusaha. Forum ini menjadi wadah koordinasi dalam penyelesaian persoalan hubungan industrial secara nasional.
“Kami tidak punya tongkat ajaib untuk menyelesaikan setiap masalah, namun forum ini menjadi wadah bagi semua pihak untuk berdiskusi dan mencari solusi secara kolaboratif, dengan menjunjung nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberlanjutan usaha,” paparnya.
Tri menekankan pentingnya pendekatan restoratif dan kekeluargaan dalam menyelesaikan perselisihan ketenagakerjaan.
Menurutnya, kesepakatan sukarela antar pihak sering kali lebih efektif dan berkelanjutan dibanding keputusan hukum semata.
“Kami menghormati proses hukum yang berjalan, tetapi kesepakatan sukarela bisa lebih berkelanjutan. Karena itu, kami ingin mendengar langsung pandangan dan harapan dari pihak Yamaha agar solusi yang dihasilkan dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak,” ujarnya.
Diakhir Tri menegaskan komitmen Dittipidter dalam menjaga keberlanjutan usaha, melindungi pekerja, dan memastikan stabilitas keamanan di kawasan industri.
“Kami mendukung PT Yamaha Music untuk terus berkembang dan menciptakan lapangan kerja baru. Semakin maju perusahaan, semakin besar kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat. Harapan kami, dialog ini menjadi langkah awal menuju penyelesaian yang adil, menenangkan, dan produktif bagi semua pihak,” pungkasnya.(Redaksi swanara)
