WARTAWAN BERTANYA , SHE MENJAWAB.

Wartawan:

1. Bahlil target maju pilpres 2029 lawan prabowo (lagu mbg dll pencitraan naikan popularitas)
2. Bahlil paling pas maju berpasangan dengan Gibran (gibran capres-bahlil cawapres atw sebaliknya. Mohon tanggapannya.

SHE:

Sangat mustahil sekali jika Bahlil Lahadalia akan berani maju untuk menjadi Capres 2029 berhadap-hadapan dengan Capres Prabowo Subianto, meskipun berbagai usaha pencitraan untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas Bahlil terus menerus gencar dilakukan selama beberapa bulan terakhir. Kenapa demikian?

Pertama, Bahlil meskipun populer namun tidak berarti Bahlil disukai dan akan dipilih oleh rakyat. Popularitas itu kan tidak selalu berbanding linier dengan elektabiltas seseorang. Apalagi Bahlil selama ini justru sangat terasa sekali tidak disukai oleh sebagian besar rakyat, karena Bahlil beberapakali telah membuat kebijakan yang sangat merugikan rakyat, khususnya rakyat kecil. Seperti kebijakannya soal Tabung Gas Melon yang dahulu sempat membuat heboh di masyarakat.

Kedua, Bahlil naik menjadi Ketua Umum Partai Golkar itu tidak melalui mekanisme demokrasi yang benar. Ia naik menjadi Ketum Golkar itu kan hasil dari “kudeta merangkaknya” Jokowi. Ketum Golkar sebelumnya, Airlangga Hartarto dipaksa mundur dan jika tidak mau, maka kasus korupsinya akan segera dilanjutkan proses hukumnya. Lalu mundurlah Airlangga Hartarto dari Ketum Golkar. Maka naiknya Bahlil menjadi Ketum Golkar, bukanlah aspirasi murni dari para kader Golkar, melainkan murni hasil todongan/paksaan Jokowi.

Melihat proses naiknya Bahlil menjadi Ketum Golkar yang kasar seperti itu, tentunya telah membuat ketersinggungan tersendiri bagi para kader Golkar, mulai dari pusat hingga daerah. Perolehan suara Golkar di 2029 nanti akan terancam punah, karena figurnya tidak banyak disukai oleh rakyat. Hal ini berakibat akan mengecilnya dukungan dari para kader Golkar untuk mengusung Bahlil menjadi Capres/Cawapres 2029.

Ketiga, kalau diibaratkan, Bahlil itu hidup dan mati akan selalu ikut Jokowi atau setidaknya Prabowo. Maka sangat mustahil jika nantinya Jokowi maupun Prabowo merestui Bahlil untuk menjadi Capres 2029. Merestui Bahlil untuk menjadi Capres 2029, itu sama halnya dengan membiarkan langkah penjegalan untuk naiknya Gibran maupun Prabowo sebagai Presiden 2029. Karenanya sangat mustahil, baik itu Jokowi maupun Prabowo merestuinya.

Keempat, tekad Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi Capres 2029 itu sangat terlihat kuat sekali. Untuk memuluskan langkah itu, Gibran tentunya akan mencari figur calon pendamping (Cawapres) yang sangat populer dan memiliki tingkat keterpilihan yang tinggi. Bahlil pastinya tidak akan memenuhi kriterianya untuk dapat menjadi calon pendampingnya.

Apalagi Dalang Politik Gibran, yakni Jokowi yang dikenal sangat kalkulatif dalam berpolitik, mana mungkin akan merestui Bahlil untuk menjadi Cawapres yang akan mendampingi Capres Gibran? Kalau menurut prediksi saya kok sangat mustahil. Ada banyak figur yang tentunya masuk teropongan Jokowi untuk diorbitkan menjadi calon pendamping anaknya di 2029, misalnya KDM. Sebab popularitas dan elektabilitas KDM selama ini cukup layak publik perhitungkan.

Kelima, dan ini yang perlu diperhatikan dan diingat sekuat-kuatnya, apa mungkin di 2029 nanti baik itu Prabowo maupun Gibran apalagi Bahlil akan masih bisa bertengger di panggung politik nasional? Kalau memperhatikan kecenderungan pergerakan politik nasional belakangan ini, justru yang terjadi adalah pembongkaran habis-habisan skandal-skandal korupsi dan penyalahgunaan kewenangan (abuse of power) di tubuh Pemerintahan Prabowo-Gibran.

Ditambah lagi dengan situasi perekonomian nasional yang terasa hancur, nilai kurs Rupiah terhadap US Dollar yang semakin hari semakin turun, daya beli rakyat turun, biaya pendidikan yang sangat mahal, harga-harga barang mahal dll.nya, ini cepat atau lambat akan segera memunculkan perlawanan yang sangat dahsyat dari rakyat. Rakyat selama ini mungkin masih bisa menahan diri karena masih adanya berbagai Bansos, namun kalau keuangan negara sudah habis terkuras, mau apalagi rakyat kalau tidak berontak pada penguasa yang memanage negara secara ugal-ugalan? Wallahu a’lamu bishawab…(SHE).

Rabu, 10 Juni 2026.

Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik, Aktivis ’98.

scroll to top