WABUP KUNINGAN ANGKAT BICARA TERKAIT ISU MUNCULNYA NAMA MANTAN KEPALA BGN

Kuningan – Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani atau Amih Tuti, akhirnya buka suara terkait isu yang berkembang setelah munculnya persoalan hukum yang menyeret nama mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Ia mengakui adanya hubungan kekerabatan dengan Dadan, namun menegaskan hal tersebut tidak berkaitan dengan persoalan hukum yang sedang berlangsung.

“Itu saudara dari suami, dan namanya saudara ya tetap saudara,” ujar Amih Tuti usai menghadiri pembukaan Turnamen Tenis May Day AGN Cup 2026, Sabtu (6/6/2026).

Meski memiliki hubungan keluarga, Amih Tuti menegaskan setiap orang harus bertanggung jawab atas persoalannya masing-masing. “Itu kan urusan beliau-beliau, iya kita-kita. Jadi urusannya masing-masing,” katanya.

Ia menjelaskan dukungannya terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini didasari manfaat program tersebut bagi masyarakat, terutama untuk peningkatan gizi anak dan penanganan stunting.

“Kemarin, kami harus support karena programnya baik. Tetapi kalau sekarang beliau (Dadan, red) ada keterlibatan dalam persoalan hukum, iya itu beliau yang harus tanggung sendiri,” tegasnya.

Amih Tuti juga membantah kabar yang menyebut dirinya memiliki hingga 19 dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kuningan. Menurutnya, jumlah dapur yang dimiliki hanya empat lokasi.

“Saya punya empat dapur saja. Dapurnya di Rumdin Cijoho, Pesona Alam, Wisma Asri, sama di kantor notaris. Itu saja,” ungkapnya.

Ia turut menepis tudingan adanya pihak yang menitipkan nama atau menggunakan namanya dalam pengelolaan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Tidak ada nama yang dititipkan ke saya. Jadi tidak usah banyak fitnah,” ujarnya.

Terkait keterlibatannya dalam program tersebut, Amih Tuti mengaku lebih banyak berperan menjembatani pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan mitra penyedia makanan agar produk lokal dapat terserap dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Kalau ada pisang atau produk UMKM, saya sampaikan ke mitra-mitra. Kalau ada roti juga saya bantu komunikasikan supaya bisa bekerja sama. Saya hanya menjembatani,” katanya.

Mengenai kabar sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami kendala operasional akibat keterlambatan pencairan anggaran, ia berharap pelayanan kepada penerima manfaat tetap berjalan.

“Mungkin sekarang ada keterlambatan karena ada persoalan di atas. Tinggal dibantu dulu oleh para mitra. Jangan sampai berhenti,” tuturnya.

Amih Tuti juga mengingatkan agar kualitas makanan tidak dikurangi, terutama bagi kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang menjadi prioritas program dalam upaya menekan angka stunting di Kabupaten Kuningan.

“Jangan sampai mengurangi kualitas menu. Apalagi stunting di Kuningan masih cukup tinggi. Dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis, kalau angka stunting tetap tinggi berarti ada yang harus dievaluasi dalam penyediaan menu untuk kelompok 3B,” tegasnya.

Menurutnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diukur dari jumlah dapur yang beroperasi atau banyaknya penerima manfaat, tetapi juga dari kemampuannya meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mempercepat penurunan angka stunting di Kabupaten Kuningan.(Red)

scroll to top