HAJI MABRUR


Oleh : Ibnu Hajar Mahbub

Setiap jemaah mendamba kemabruran dalam berhaji. Makanya, salah satu do’a yang selalu dipanjatkan mereka yang berhaji, kerabat, dan handai tolan lainnya adalah mendapatkan haji yang mabrur.

Lalu, apakah kemabruran itu?

Ketahuilah bahwa indikator kemabruran haji seseorang adalah sama seperti puasa. Kita berpuasa tujuannya adalah untuk menjadi manusia bertaqwa. Selama kita menunaikan ibadah puasa, kita melakukan amalan-amalan, baik itu ibadah, sedekah, dan itu merupakan bagian dari kriteria hamba yang bertaqwa dan ukuran taqwa itu dapat diletahui setelah berpuasa.

Pada ibadah haji, kita melakukan hal yang sama. Selama haji, kita melakukan amal-amal kebaikan, baik yang rukun, wajib, dan sunnah haji. Haji ini adalah proses ar-riyadhah atau pelatihan. Pelatihan itu adalah proses pembentukan seseorang untuk menjadi manusia yang memiliki kualifikasi haji mabrur.

Oleh karena itu, kalau kita baca hadist, kriteria haji mabrur bermacam-macam. Ada yang menggunakan parameter sambung silaturahmi, sedekah, banyak ibadah, dan lain lain. Sehingga, ar-riyadhah bermakna proses pembentukan habit atau kebiasaan. Dari situ lahirlah pembiasaan. Lalu, lahirlah karakter atau kepribadian. Proses inilah yang harus terus dilakukan oleh mereka yang pergi haji.

Jadi, yang dimaksud mabrur adalah orang yang senantiasa dimudahkan الله dalam berbuat kebaikan, baik selama ibadah haji, bahkan setelahnya.

Mengingat ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima, maka seseorang yang mendapatkan predikat haji mabrur berarti dia harus tetap menjaga amalan-amalan baik untuk tetap dilakukan dan tidak merusak kembali dengan amalan-amalan jelek lainnya.

والله اعلم بالصواب

Pondok Aren
Jumat, 01 Mei 2026
12 Dzul Qoidah 1447 H

scroll to top