Oleh ; _Ibnu Hajar Mahbub_
══•❁🌻🌻❁•══
Ketika Nabi Ibrahim memberi jawaban kepada Siti Hajar bahwa keduanya ditinggal di _Lembah Bakka_ adalah karena perintah اَللّهُ ﷻ dan Dia lah yang akan melindungi keduanya, Nabi Ibrahim terus berjalan meninggalkan Mekkah dan yang pasti meninggalkan istri dan anak kesayangannya menempuh perjalanan jauh, penuh rintangan, dan berjalan seorang diri tanpa seorang pun yang menemaninya, hanya air matalah sebagai teman sejatinya.
Ketika Nabi Ibrahim berjalan cukup jauh hingga tidak terlihat mata oleh Siti Hajar dan Ismail, beliau berbalik badan untuk memandang _Lembah Bakka_ dengan penuh iba dan tetesan air mata.
Tidak diketahui dengan pasti, apakah Nabi Ibrahim berjalan kaki ketika meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail ataukah dengan mengendarai keledai ?
Dengan perasaan sedih dan penuh harap, beliau berdiri di atas sebuah gunung yang dilewatinya sambil meneteskan air mata, Nabi Ibrahim menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa kepada اَللّهُ ﷻ, seperti do’a yang tercantum dalam _Surat Ibrahim, Ayat 37_:
_*”Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat Rumah-Mu yang dihormati. Tuhan kami, itu agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka dengan buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS Ibrahim : 37).*_
_*Berbeda dengan tetesan air mata Al-Ahmar Ibnu Shoghir, Emir Granada, benteng terakhir kekuasaan Islam di Andalusia saat dia menyerahkan kekuasaannya kepada Kekaisaran Romawi Barat yaitu Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella. Ibnu Shoghir, kemudian meninggalkan Granada dan naik ke atas sebuah bukit sambil melihat AL-HAMBRA, situs kejayaan Islam terbesar di Eropa bahkan dunia dengan tetesan air mata penuh hina dan penyesalan*_.
Tangis Nabi Ibrahim bukan tangis penuh hina dan penyesalan, akan tetapi tangis dan do’a penuh harap agar kelak daerah yang ditempati Nabi Ismail walaupun tandus akan menjadi daerah yang banyak diziarahi oleh penduduk bumi untuk beribadah dan mengesakan Alloh.
Di dalam do’a Nabi Ibrahim di atas, terucap kata “_*di suatu lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat Rumah-Mu yang dihormati*_”. Apakah kalimat tersebut tidak bertentangan dengan tulisan sebelumnya yang mengatakan bahwa “Siti Hajar dan Nabi Ismail” diletakkan di bawah naungan suatu pohon” ?
Ingat bahwa do’a Nabi Ibrahim tersebut mengisyaratkan pada tanaman bukan pohon dan pohon yang tumbuh pun hanya satu pohon yang berada di lokasi Siti Hajar dan Nabi Ismail berteduh. Namun setelah air _ZAM ZAM_ memancar dari sisi Nabi Ismail, tidak lama kemudian pohon itu mati.
Meskipun Nabi Ibrahim memiliki keimanan dan ketundukkan total kepada اَللّهُ ﷻ, namun kita dapat membayangkan bahwa perjalanan kembali ke Hebron tentu amat sulit baginya. Perjalanan panjang sejauh 1.200 km dan ditempuh selama dua bulan lebih, perjalanan yang diiringi dengan perasaan galau, tentu membuatnya merasakan kepayahan yang melebihi ketika perjalanan meninggalkan Hebron. Praktis perjalanan pulang pergi dari Hebron ke Lembah Bakka dan sebaliknya lebih dari 2.400 km.
Setiap langkah yang diayunkan, terasa berat, hatinya pedih, dan air matanya mengalir tak terasa. Fikirannya melayang pada istri dan buah hati yang ditinggalkannya.
Kita bisa berasumsi bahwa perjalanan kembali ke Hebron banyak berhenti untuk merenung arti sebuah perintah. Di sisi lain perjalanan menuju Hebron menyimpan rindu terhadap Siti Sarah yang ditinggalkannya
Meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di _Lembah Bakka_ merupakan ujian terberat bagi beliau, walaupun ujian tersebut selalu terbukti bahwa Nabi Ibrahim adalah _Kekasih Allah ( KholilULLAH_) yang sangat teruji, taat, sabar, dan bijak.
Kita telah mengetahui dari tulisan sebelumnya tentang kisah bahwa Nabi Ibrahim pernah diuji ketika berada di _Ur_ (Mesopotamia, Irak Bagian Selatan, sekarang) yaitu diuji ketika berhadapan dengan _Raja Namrudz_ dan dibakar dalam api panas. Nabi Ibrahim juga pernah diuji di _Haran_ (Turkey) ketika beliau diusir oleh ayah angkatnya, _*Azar*_. Beliau juga diuji ketika Siti Sarah hendak diambil oleh _Raja Mesir, Raja Urara_. Nabi Ibrahim juga diuji ketika Siti Sarah menuntut agar Siti Hajar meninggalkan dirinya. Semua ujian itu diterimanya dengan sabar dan taat terhadap perintah اَللّهُ ﷻ.
والله اعلم بالصواب
┅══✿❀📚❀✿══┅
Pondok Aren
Jumat, 29 Mei 2026
12 Dzulhijjah 1447 H
_Bersambung_……
