SAAT NABI IBRAHIM PERGI KE MEKKAH UNTUK YANG KETIGA KALINYA

IMG-20260527-WA0008.jpg

Oleh : Ibnu Hajar Mahbub

Paling tidak, satu bulan atau lebih Nabi Ibrahim berada di Mekkah bersama istri dan anaknya pada kunjungannya yang kedua. Beliau kemudian kembali ke Hebron untuk menemui Siti Sarah.

Kita kesampingkan kabar tentang saat-saat Nabi Ibrahim kembali dari Mekkah menuju Hebron karena sebagaimana perjalanan sebelumnya, sudah pasti banyak menemukan cerita suka dan dukanya

Tujuh tahun telah berlalu sejak kunjungan terakhir Nabi Ibrahim ke Mekkah yang _*kedua*_, yaitu saat wahyu untuk mengurbankan anaknya turun, sedang pada _*kunjungan pertama*_ saat Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya di Lembah Bakka. Kini beliau bermaksud untuk mengunjungi Siti Hajar dan Nabi Ismail yang _*ketiga kalinya*_.

Pada kunjungan yang ketiga itu, _*umur Nabi Ibrahim diperkirakan sudah mencapai umur 105 tahun lebih*_, suatu umur yang tidak lagi sekuat dengan sebelumnya.

Selama kunjungan sebelumnya, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah berhasil menjalankan ujian berat yang اَللّهُ ﷻ
berikan kepada keduanya. _*Kepatuhan Nabi Ibrahim adalah menerima perintah untuk mengorbankan anaknya, sementara kepatuhan anaknya adalah dia bersedia menerima perintah اَللّهُ ﷻ dengan menjadi kurban*_.

Ketika Nabi Ibrahim hampir mendekati Mekkah setelah perjalanan panjang sejauh 1.200 km yang ditempuh lebih dari dua bulan. Nabi Ibrahim melihat banyak perubahan yang terjadi di sekitar Mekkah.

Perumahan di Mekkah sudah mulai bermunculan, namun lebih banyak dihuni oleh *_Suku Yorhamit_ (Suku Jurhum)* dari _Hadramaut_. Perumahan terus tumbuh pesat dan menjadi makmur, sehingga Mekkah menjadi kota permanen dan pusat urban. Tenda-tenda diganti dengan rumah, tutup-tutup tenda diganti dengan pintu, Nabi Ismail sendiri tinggal di sebuah rumah.

_*Ketika Nabi Ibrahim tiba di Mekkah, diperoleh kabar bahwa Siti Hajar telah wafat dan Nabi Ismail sendiri telah menikah, namun Nabi Ismail tidak lagi tinggal di Mekkah. Tidak diketahui secara pasti berapa umur Nabi Ismail ketika menikah dan berapa umur Siti Hajar ketika wafat dan dimana dimakamkan*_

Dari informasi tentang wafatnya Siti Hajar dan kepindahan Nabi Ismail yang tidak diketahui lagi alamatnya perasaan sedih menyelimuti diri Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim berusaha untuk mencari rumah Nabi Ismail dengan bertanya kepada penduduk setempat dan akhirnya diketemukan.

Ternyata Nabi Ismail telah dinikahkan dengan seorang wanita dari keluarga penduduk setempat. Namun Nabi Ibrahim tidak menemukan anaknya di rumah tersebut, yang ada hanya menantunya, _*Ammarah binti Sa’ad*_ istri Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bertanya tentang Nabi Ismail kepada menantunya.

Menantunya menjawab : *_”Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami”_.*

Nabi Ibrahim bertanya lagi tentang kehidupan dan keadaan keluarga Ismail :

Menantunya menjawab : *_”Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit, dan penuh dengan hal-hal yang buruk”_.*

Tampak jelas bahwa istri Nabi Ismail tidak puas dengan nasib hidupnya, pernikahannya, dan tingkat gaya hidup yang dimilikinya.. Terlebih lagi, dia berkata tanpa malu-malu kepada semua orang, termasuk pada orang yang belum dikenalnya. Betapa pilu dan pedihnya hati Nabi Ibrahim atas pernyataan menantunya tersebut. Apalagi perjalanan jauh yang ditempuhnya dengan maksud agar dapat bersua dengan anaknya, tidak tercipta.

Ketika Nabi Ibrahim mengetahui jawaban menantunya yang tidak mengenakkan dan mengetahui sifat dan perangai menantunya, apalagi beliau tidak juga berjumpa dengan anaknya, beliau bersiap-siap untuk pamitan dan kembali ke Hebron. Namun sebelum pergi beliau minta tolong kepada menantunya, _Ammarah binti Sa’ad,_ untuk menyampaikan dua pesan sebagaimana diriwayatkan _*Ibnu Katsir dalam Kitab Qishoshul Anbiya dan Kitab Fathul Bari Karya Ibnu Hajar Al-Atsqolani*_ :

_*Pertama*_ beliau meminta kepada menantunya untuk menyampaikan pesan kepada Nabi Ismail tentang kedatangannya. _*Kedua*_, beliau meminta menantunya untuk berkata kepada suaminya, Nabi Ismail bahwa tamunya itu meminta saran untuk mengganti daun pintu atau pagarnya.

Setelah Nabi Ibrahim menyampaikan dua pesan tersebut kepada menantunya, tidak berlama-lama beliau segera pamitan pulang.

Perjalanan panjang untuk kembali ke Hebron, sudah menantinya dan tidak ada alasan untuk menunda kepulangannya itu, walaupun tidak bertemu dengan anaknya.

Dapat dibayangkan betapa pilu dan sedih hati Nabi Ibrahim yang tidak dapat menjumpai putranya. Lebih pilu lagi atas jawaban istri Nabi Ismail.

Tidak beberapa lama setelah Nabi Ibrahim kembali ke Hebron dan Nabi Ibrahim masih dalam perjalanan, Nabi Ismail sampai ke rumah dari perjalanan berburu.
Ketika Nabi Ismail datang, beliau merasakan ada sesuatu, lalu Nabi Ismail bertanya kepada istrinya, _Ammarah binti Sa’ad_, tentang apa yang terjadi selama kepergiannya.

Istrinya berkata bahwa ada seorang tamu yang datang ke rumahnya, dan ia menggambarkan rupa tamu itu kepada suaminya. Setelah dijelaskan ciri-ciri tamu yang datang, akhirnya Nabi Ismail mengenali gambaran itu sebagai ayahnya dan Nabi Ismail menanyakan pesan apa yang disampaikan oleh tamu tersebut. Istrinya kemudian menyamlaikan dua pesan tersebut.

_*Setelah menyampaikan dua pesan tersebut, Nabi Ismail langsung mengetahui bahwa orang itu adalah ayahnya dan pesan Nabi Ibrahim yang kedua untuk merubah daun pintunya adalah memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Nabi Ismail segera menjalankan perintah ayahnya untuk menceraikan istrinya*_.

والله اعلم بالصواب

*《—-ۜะะะۣۨ>[🫀]< ۣۨۨะะะۜ----》* Pondok Aren Ahad, 07 Juni 2026 21 Dzulhijjah 1447 H _Bersambung_...

scroll to top