Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Walaupun menurut Jumhur Ulama sudah jelas bahwa perintah الله kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya adalah Nabi Isma’il sebagaimana tercantum dalam Surat As-Shoffat, ayat 102, namun ada juga versi lain yang menyatakan bahwa yang diperintahkan الله kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya adalah _Nabi Ishaq, bukan Nabi Ismail_.
Menurut versi ini Allah befirman sebagaimana yang tercantum dalam Buku Sejarah Nabi Ibrahim, karya Abu Abbas Al-Aqqod : _*”Wahai Ibrahim, bawalah anakmu satu-satunya -Ishaq- dan pergilah ke Bukit Moria”*_.
Maka, pada keesokan harinya, Nabi Ibrahim bangun pagi-pagi. Ia segera memasang pelana kudanya dan diajaklah kedua budaknya untuk menyertainya, juga Ishaq. Nabi Ibrahim membelah kayu bahan bakar untuk berkurban. Lalu mereka berangkat ke tempat yang telah ditunjukkan Allah.
Tepat di hari ketiga perjalanan, Nabi Ibrahim melihat tempat yang dituju dari kejauhan Setelah mereka sampai, Nabi Ibrahim berkata kepada kedua budaknya : _*”Duduklah kalian berdua disini bersama kudaku. Aku dan Ishaq akan pergi ke bukit itu. Kami akan beribadah lalu kembali lagi kepadamu”*_
Nabi Ibrahim segera mengambil kayu untuk berkurban dan meletakkannya ke atas bahu Ishaq. Sedangkan Nabi Ibrahim sendiri membawa api dan sebilah pisau. Lalu keduanya pergi bersama-sama.
Akan tetapi, sebelum keduanya beranjak, tiba-tiba Nabi Ishaq bertanya kepada ayahnya : _*”Wahai ayah, kayu bakar dan apinya sudah aku siapkan. Lalu dimanakah anak domba yang akan kita kurbankan?”*_.
Nabi Ibrahim menjawab : _*’Allah sendiri yang alan menyediakan. Dialah yang memiliki domba jantan yang akan diqurbankan’*_ Keduanya pun segera pergi.
Sesampainya di tempat yang telah ditunjukkan Allah, Nabi Ibrahim membuat papan pembakaran (_madzabih_) dan menara kayu bakar. Lalu Nabi Ishaq diikat dan ditelentangkan di atas kayu bakar tersebut. Kemudian Nabi Ibrahim segera meraih pisau yang siap digunakan untuk menyembelih putranya.
Tatkala pisau sudah ditangan, tiba-tiba terdengar suara dari langit : _*”Ibrahim… Ibrahim”*_.
Nabi Ibrahim menjawab : _*” Ya”*_.
Kemudian suara itu terdengar kembali : _*”Jangan kau celakai anak itu dan jangan melakukan apa saja kepada anakmu. Sekarang aku tahu bahwa engkau adalah orang yang bertaqwa karena tidak segan-segan mengurbankan anak satu-satunya kepada-Ku”*_
Seketika itu mata Nabi Ibrahim terbelalak karena melihat di belakangnya seekor kambing jantan di dalam hutan yang tanduknya tersangkut pada semak-semak. Nabi Ibrahim pun bergegas menuju kambing tersebut dan mengambilnya, lalu menyembelihnya sebagai ganti anaknya.
Dari kisah tersebut sangat jelas perbedaan keduanya. Ketika الله memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya -Nabi Ismail-, Nabi Ibrahim meminta pendapat terlebih dahulu kepada Nabi Ismail tenteng perintah untuk menyembelihnya. Namun dalam versi di atas Nabi Ibrahim tidak meminta pendapat terlebih dahulu kepada Nabi Ishaq yang akan dikurbankan bahkan Nabi Ishaq sendiri tidak mengetahui apa tujuan Nabi Ibrahim mengajak dirinya naik bukit, apalagi dengan membawa pisau. Nabi Ishaq hanya mana domba yang akan dikurbankan?
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Sabtu, 06 Juni 2026
20 Dzulhijjah 1447
