Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Setelah sebelas atau dua belas tahun yang lalu, Nabi Ibrahim mempercayakan Siti Hajar dan Nabi Ismail dalam perlindungan اَللّهُ ﷻ, meninggalkan mereka di lembah terpencil _Lembah Bakkah_ dan kembali ke Palestina untuk hidup bersama dengan Siti Sarah.
Kini, Nabi Ibrahim sudah *berusia 99 tahun*, suatu usia yang mungkin pada masa itu bukan termasuk kategori _usia lanjut_ karena usia orang-orang zaman dahulu memang panjang-panjang. Beda dengan sekarang, usia 99 tahun termasuk orang-orang yang sangat langka. Mungkin hanya ada satu orang dari satu juta orang. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa lamanya masa berpisah, menimbulkan kerinduan terhadap Siti Hajar dan anaknya. Wajah keduanya selalu membayanginya, walaupun Nabi Ibrahim yakin bahwa mereka tetap dalam perlindungan اَللّهُ ﷻ.
_*Wajar jika kemudian Nabi Ibrahim memiliki banyak pertanyaan tentang keadaan mereka, antara lain : *”Apa yang sedang mereka lakukan ?, Sudah menjadi apa Nabi Ismail, anaknya itu ?. Apakah Siti Hajar juga merindukanya seperti Nabi Ibrahim merindukan Siti Hajar ?”*_.
Itulah perasaan yang selalu mengelayuti dan membayanginya selama ini.
Akhirnya, entah karena keinginan sendiri atau karena perintah اَللّهُ ﷻ, Nabi Ibrahim memutuskan kembali ke Mekkah untuk menjenguk istri keduanya dan anak satu-satunya itu.
Nabi Ibrahim membutuhkan waktu beberapa hari untuk mempersiapkan perjalanan jauh yang akan dilakukannya. Nabi Ibrahim juga harus mempersiapkan barang-barang bawaan, kendaraan yang akan ditumpanginya, termasuk mencari dan mempersiapkan teman untuk mendampinginya dalam perjalanan.
Dengan memperhitungkan usia yang sudah mencapai _*99 tahun*_ dan waktu perjalanan yang cukup melelahkan sejauh _*1.200 km*_ dan rencana lamanya waktu untuk bersama Siti Hajar dan Nabi Ismail, otomatis lama perjalanan yang akan ditempuh dari Palestina ke Mekkah dan sebaliknya dari Mekkah ke Palestina lebih dari lima bulan, belum lagi waktu untuk berjumpa dengan istri dan anaknya, pasti lebih dari lima bulan.
Di samping itu Nabi Ibrahim juga harus meminta ijin dan memikirkan Siti Sarah yang akan ditinggalkannya. Untungnya, Nabi Ibrahim memiliki banyak pembantu yang dapat menjaga dan melayani kebutuhan sehari-hari Siti Sarah.
Secara _*”emosional”*_ kita dapat menduga bahwa sebetulnya Siti Sarah sangat tidak setuju dengan rencana Nabi Ibrahim untuk mengunjungi Siti Hajar dan anaknya yang di Mekkah, perasaan cemburu masih membayanginya.
Dari _perspective psychology_, dalam benak Siti Sarah ada rasa takut akan ditinggal Nabi Ibrahim. Pertanyaan yang kemungkinan muncul di hati Siti Sarah adalah _*Pertama*_ apakah dirinya sebagai seorang istri kurang cukup setia terhadap Nabi Ibrahim ?.
_*Kedua*_, apakah Nabi Ibrahim sudah tidak mencintainya lagi. ?
_*Ketiga*_, apakah Nabi Ibrahim akan menetap di Mekkah dan tidak akan kembali lagi kepadanya ?.
Sepertinya sebelum Nabi Ibrahim memulai perjalananya, dia harus mendengar terlebih dahulu keluhan Siti Sarah. Siti Sarah kemudian menyampaikan tiga kekhawatiran di atas.
Namun jiwa dari istri seorang Nabi, dia akhirnya mengijinkan Nabi Ibrahim untuk pergi ke Mekkah yang _*kedua kalinya*_. setelah pada kunjungan pertama Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di lembah yang tandus.
والله اعلم بالصواب
═══•❁🌻❁•═══
Pondok Aren
Selasa, 02 Juni 2026
16 Dzulhijjah 1447 H
_Bersambung_..
