Banyumas – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas mengintensifkan perawatan Alun-Alun Purwokerto.
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya aktivitas masyarakat setelah rumput dibuka untuk umum.
Kepala DLH Banyumas Widodo Sugiri mengungkapkan biaya perawatan kawasan tersebut tergolong besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran pemeliharaan rutin mencapai sedikitnya Rp 600 juta per tahun.
Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan perawatan.
Mulai dari tambal sulam rumput yang rusak, pemupukan berkala, hingga pemeliharaan fasilitas pendukung lainnya.
Menurut Sugiri, kebijakan membuka akses rumput bagi masyarakat membawa tantangan baru.
Intensitas perawatan harus ditingkatkan agar kualitas rumput tetap terjaga di tengah tingginya kunjungan.
“Nanti akan ada waktu khusus, bisa dalam hitungan hari atau satu minggu tertentu, area rumput sementara tidak boleh diinjak dulu. Ini penting untuk memberi waktu rumput ‘bernafas’ dan pulih kembali setelah digunakan beraktivitas padat,” ujarnya.
Ia menjelaskan penutupan sementara akan dilakukan secara berkala. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga kondisi rumput tetap hijau dan tidak cepat rusak.
DLH juga menyiapkan langkah pendukung untuk menjaga kebersihan kawasan. Salah satunya dengan menambah tong sampah portabel di sejumlah titik alun-alun.
“Kami ingin memastikan landmark kota ini tetap enak dipandang dan estetik. Jika kawasannya bersih, pengunjung akan betah, dan imbas positifnya dagangan para pelaku UMKM di sekitar juga akan makin laris,” katanya.
Ia menegaskan kebersihan dan kelestarian alun-alun bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
Peran aktif masyarakat dan pedagang dinilai sangat penting untuk menjaga keindahan kawasan.
“Kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya menjadi kunci utama agar rumput hijau alun-alun tetap tetap terjaga dan tidak rusak akibat sampah plastik atau sisa makanan-minuman, maupun aktivitas yang berlebihan,” tegasnya. (Red)
