PDIP DI ANTARA PARTAI-PARTAI POLITIK YANG TERLENA DENGAN KEKUASAAN.

Sepanjang pengamatan saya selama setahun lebih ini, PDIP tampil jauh lebih rasional dibandingkan partai-partai lainnya (Gerindra, Golkar, PKB, Demokrat dan PAN). Meskipun PDIP merupakan partai nasionalis dan tidak pernah mencitrakan diri sebagai partai Islam, namun PDIP berani terdepan dalam menyikapi berbagai kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan rakyat.

Selain itu saya perhatikan dari berbagai pernyataan politisi-politisi PDIP, juga sangat bersimpati dan berempati pada perjuangan Iran, yang dengan berani dan tegas melawan arogansi serta tindakan brutal Amerika Serikat dan Israel, yang melakukan genosida terhadap Penduduk Palestina, khususnya terhadap penduduk Palestina di Gaza.

Terakhir terhadap Iran, yang Pemimpin Tertinggi Negara dan anak-anak sekolahnya dibantai oleh Israel dan Amerika Serikat dengan 30 bom dan 200 pesawat tempur, yang sangat brutal dan sadis. Ketua Umum PDIP Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri juga memberikan Ucapan Duka Cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamanei tersebut, yang disampaikannya pada Keduataan Besar Iran di Jakarta oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Ahmad Basarah.

Sebelumnya pada tahun 2025 lalu, para ilmuwan Iran juga telah dibantai oleh para serdadu Amerika Serikat yang membabi buta, dan banyak politisi PDIP yang juga bersuara keras mengecam soal itu.

Peran PDIP ini bisa kita bandingkan dengan partai-partai lainnya, yang elite-elite partainya lebih sibuk membahas soal pencalonan atau dukungan untuk Pilpres yang masih jauh (2029). PDIP tidak berselera membahas hal seperti itu, malah PDIP lebih menyukai dan fokus membahas persoalan-persoalan mendesak terkini rakyat, yang harus segera diperhatikan dan ditangani oleh Pemerintahan Prabowo-Gibran.

Persoalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurut banyak orang mottonya:”Meski Kiamat MBG Tetap Buka” misalnya, –ada lagi yang bilang Kiamat MBG masih buka meski hanya setengah hari–yang sebagian dananya diambil dari anggaran untuk Pendidikan Nasional, dikritisi secara langsung oleh PDIP, yang sebelumnya banyak pejabat negara berbohong dengan mengatakan: dana MBG tidak mengambil dari anggaran untuk Pendidikan Nasional.

Pernyataan PDIP yang mengungkap data valid yang sesungguhnya, bahwa MBG benar-benar telah mengambil sebagian dari pos anggaran Pendidikan Nasional, sempat disanggah oleh Seskab Teddy, tetapi tidak lama setelah itu Seskab Teddy malah dibully habis-habisan oleh Netizen dan dikata-katai sebagai Ibu Negara. Sebab apa yang dinyatakan oleh Teddy seperti mengelak, bahwa dana MBG sebagian diambil dari anggaran untuk Pendidikan yang mencapai Rp. 223, 5 Triliun pada APBN 2026.

Inilah peran terbaik yang dilakukan oleh PDIP, setelah ia dikhianati oleh Jokowi, kini PDIP memilih menjadi partai politik yang berada di luar kekuasaan. PDIP menjadi partai penyeimbang Pemerintahan Prabowo-Gibran, yang tidak pernah kehilangan sikap-sikap kritisnya pada beberapa kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan rakyat.

Bersyukurlah kita sebagai bangsa, masih memiliki partai politik yang cukup serius memperjuangkan kepentingan rakyat, yakni PDIP, meskipun untuk kedepannya saya berpikir PDIP masih perlu harus kita dorong terus menerus, untuk lebih konsisten, kritis dan berani menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat, khususnya rakyat kecil (wong cilik) yang selama ini banyak memberikan dukungan untuknya.

Hallo elite-elite Gerindra, Golkar, PKB, Demokrat, PAN bagaimana kabar kalian? Masihkan kalian belum sadar, bahwa selama ini kalian masih stagnan sebagai beban keuangan negara? Dana untuk Partai Politik triliunan rupiah dari negara, kalian gunakan untuk apa? Coba sebagai bagian dari rakyat saya bertanya, jawablah itu !

Apakah kalian masih berfungsi sebagai Partai Politik yang diharuskan untuk melakukan pendidikan politik bagi rakyat dan menyerap serta memperjuangkan aspirasinya? Ataukah kalian masih lebih asyik fokus untuk meraih jabatan setinggi-tingginya, dan memperkaya diri serta terlena dalam kesibukan mencari popularitas dll.nya semata?

Berfikirlah, bahwa jika kelak kalian sudah mati, meninggalkan dunia ini, apapun nama besar kalian, jabatan kalian, harta benda kalian tidak akan lagi berguna bagi kalian. Begitu keluarga dan para pendukung kalian selesai mengubur kalian di pemakaman, setelah itu orang-orang akan melupakan kalian dan keluarga kalian akan asyik menikmati harta kekayaan peninggalan kalian.

Hidup ini singkat, ibarat mampir minum sebentar, setelah itu kalian akan pergi menuju dunia sebrang, yang gelap dan sunyi !. Kalian akan kesepian dan tersiksa dalam penyiksaan panjang. Itupun jika kalian masih punya keimanan, jika tidak ya silahkan buktikan sendiri nanti. Maka bertaubatlah sebelum masa itu tiba. Sapere aude !…(SHE).

3 Maret 2026.

Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik. Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (1985-1991).


Saiful Huda Ems (SHE).

scroll to top