Banyumas – Desa Wisata Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional.
Desa Melung berhasil meraih juara pertama sebagai Desa Wisata Nusantara Kategori I Desa Sangat Tertinggal/Tertinggal/Berkembang.

Ketua Pokdarwis Pagubugan Melung, Timbul Yulianto, menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari konsep yang diusung sejak awal, yakni menjadikan Desa Melung sebagai Desa Wisata, bukan sekadar destinasi wisata tunggal. Konsep desa wisata ini mengintegrasikan berbagai potensi desa, mulai dari wisata alam Pagubugan, pelaku UMKM, seni dan budaya lokal, hingga keberadaan Rumah Singgah Melung (RSM) yang mencerminkan nilai toleransi di masyarakat.
“Desa Wisata Melung menggabungkan beberapa indikator, selain destinasi wisata pagubugan, seni budaya, dan rumah singgah sebagai tanda toleransi.” Jelasnya.
Desa Melung sendiri tercatat telah tiga kali masuk dalam ajang nasional, yakni masuk tujuh besar pada 2023, empat besar pada 2024, dan menjadi juara pertama pada 2025.
Dalam proses penilaian, beberapa indikator utama menjadi keunggulan Desa Melung, antara lain keberlanjutan pengembangan desa wisata, kelengkapan legalitas seperti SK BUMDes dan Kelompok Sadar Wisata, serta kemampuan desa dalam mengelola dana desa secara seimbang.
Desa Wisata Melung menitikberatkan pada pelestarian alam sebagai daya tarik utama.
Salah satu inovasi yang menjadi ikon Desa Wisata Melung adalah kawasan kolam renang alami di area persawahan yang kini semakin hijau dan menarik minat wisatawan.
Warga Desa Melung memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan wisata dengan menyediakan rumah sebagai homestay, mengelola UMKM secara mandiri, serta terlibat langsung dalam berbagai kegiatan desa wisata.
Upaya tersebut tidak hanya mendukung pariwisata, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah Desa Melung menargetkan untuk mempertahankan konsep wisata alam yang berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, wisata alam memiliki daya tahan jangka panjang dibandingkan wisata buatan yang mengikuti tren sesaat.(Redaksi swanara)
