Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Ketika Nabi Adam dan Siti Hawa tergelincir dan tergoda karena bujukan Iblis dengan memakan buah keabadian _buah khuldi_, keduanya diturunkan ke bumi.
Kita tidak mengetahui dengan cara apa اَللّهُ ﷻ menurunkan keduanya ke bumi dan kita juga tidak memahami dimana letak surga yang dihuni Nabi Adam saat itu ataukah surga yang ditempati Nabi Adam saat itu sama dengan keni’matan dan keindahan surga yang dijanjikan اَللّهُ ﷻ bagi orang-orang yang bertaqwa kelak di akhirat ?
Semua itu diluar jangkauan pemikiran manusia dan ini mungkin cara اَللّهُ ﷻ yang telah berfirman dan berjanji kepada para Malaikat bahwa : _*Aku akan menciptakan kholifah di bumi (Al-Baqarah : 30)”*_.
Keduanya diturunkan di bumi, Nabi Adam, اَللّهُ ﷻ turunkan di _Hindustan India_, sementara Siti Hawa diturunkan di _Jiddah_. Setelah sekian puluh tahun berpisah, menurut suatu riwayat selama empat puluh tahun, akhirnya keduanya dapat bertemu di _*Arafah*_.
Apa yang bisa dibayangkan dari perpisahan antara keduanya ketika tidak ada seorangpun manusia di bumi, kecuali keduanya. Pasti yang ada hanya tangis penyesalan tak berkesudahan. Berkelana kesana kemari, masing-masing mencari keberadaan pasangannya. Sudah dapat dipastikan saat malam tiba, keduanya berusaha untuk mencari tempat beristirahat dan sudah pasti mereka mencari bekal yang akan dikonsumsi pada hari hari berikutnya.
Selama berkelana dalam penyesalan, keduanya selalu menundukkan kepala seraya berdoa :
ربنا ظلمنا انغسنا وان لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين (الاعراف : ٢٣)
_*Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi*’_ ( QS Al-A’raaf : 23).
Alloh berfirman : _*”Wahai Adam, dengan sebab apa Aku akan menerima taubatmu?”*_.
Adam menjawab : _*Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, Kau mengampuni kesalahanku*_.
Allah berfirman : _*Bagaimana engkau mengetahui Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?*_
Adam menjawab, _*Setelah Engkau menciptakanku, aku mengangkat kepalaku, lalu aku melihat kalimat yang tertulis di atas penyangga-penyangga Arsy, kalimat*_ :
لا اله الا الله محمد رسول الله
_*Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah*_
_*”Maka, aku yakin bahwa Engkau tidak akan menyandingkan nama-Mu kecuali dengan nama makhluk yang paling Engkau cintai.”*_
Allah berfirman, _*“Hai Adam, engkau benar, dan Aku telah memaafkan kesalahan-kesalahanmu karena engkau meminta ampun kepada-Ku dengan hak Muhammad”*_.
Akhirnya pada tanggal 10 Muharram, اَللّهُ ﷻ menerima taubat Nabi Adam. Hal ini menurut salah satu riwayat terjadi setelah _*empat puluh tahun atau riwayat yang lebih dramatis lagi selama tiga ratus tahun keduanya berdo’a*_ memohon ampun atas kesalahannya.
Untuk diketahui Nabi Adam hidup di dalam surga selama 43 tahun hitungan hijriah dan selama 957 tahun hidup di dunia, sehingga umur Nabi Adam 1000 tahun.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Kamis, 18 Juli 2026
04 Muharram 1448 H
_Bersambung_
