Sampah Di Pesisir Purus

Padang – Mentari belum sepenuhnya menampakkan diri di ufuk Timur Pantai Purus, Kota Padang. Namun, deru mesin perahu kayu sudah memecah sunyi.

Sembilan pria dengan kulit legam terbakar matahari bersiap melakukan rutinitas yang telah menghidupi keluarga mereka selama puluhan tahun yakni “Mamukek”.

Pagi itu, mereka membentang jaring pukat sejauh 400 meter ke tengah laut. Berharap pada keberuntungan di balik gulungan ombak, perahu perlahan kembali ke tepi, meninggalkan jaring yang melingkar luas di dalam air.

Tak lama kemudian, kesembilan pria ini berbaris di pasir pantai, menarik tali pukat dengan irama yang seragam.

Keringat mulai membasahi kaos lusuh mereka.Secara teori, jaring sepanjang itu mampu menampung ratusan kilogram ikan.

Namun, ketika ujung pukat mulai mendekat ke bibir pantai, raut wajah para nelayan ini berubah lesu.

Bukannya kilatan perak sisik ikan yang mendominasi, melainkan warna-warni kusam dari limbah rumah tangga.

Sampah plastik, mulai dari kantong kresek, biskuit, deterjen hingga kemasa hingga botol minuman yang sudah pipih, memenuhi kantong jaring.

Di antara tumpukan sampah yang menyesakkan itu, hanya terselip sekitar 3 kilogram ikan kecil.

“Inilah hasil kami pagi ini. Alhamdulillah ada sekitar tiga kiloanlah,” ujar Jon, salah satu anggota kelompok nelayan tersebut sambil terseyum.

Hasil tangkapan yang minim itu hanya laku terjual sekitar seratus ribuan rupiah.

Angka yang jauh dari kata cukup. Sebelum uang itu dibagikan kepada sembilan orang anggota kelompok, mereka harus menyisihkan sebagian untuk biaya bahan bakar minyak (BBM) perahu.

Jika dikalkulasi secara kasar, setiap nelayan mungkin hanya membawa pulang uang kurang dari Rp10.000.

Sebuah nominal yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu liter beras berkualitas baik di pasar saat ini.

Untuk menambah bekal yang dibawa pulang, para nelayan itu kembali membentang pukat di lokasi yang tidak jauh dari lokasi semula.

“Kondisi seperti ini sudah bertahun-tahun kami alami. Di area tangkapan pukat kami sekarang sudah dipenuhi sampah plastik. Ikan-ikan lari ke tengah atau mencari tempat yang lebih bersih,” ungkapnya.

Ia menambahkan, beberapa jenis ikan yang dulu menjadi primadona, seperti Ikan Pinang-pinang, kini sudah sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah lagi menyentuh jaring mereka.Meski penghasilan dari memukat merosot tajam, Jon dan kawan-kawannya seolah enggan beranjak dari bibir pantai.

Ada ikatan batin yang sulit dijelaskan antara mereka dengan laut Padang.

Jon bercerita, beberapa rekannya sempat mencoba peruntungan di bidang lain seperti menjadi kuli bangunan atau serabutan di pasar.

Namun, panggilan laut selalu membawa mereka kembali. Mereka mengaku lebih menyenangi pekerjaan ini, meski laut kini tak lagi semurah hati dulu.

Bagi Jon, masalah ini bukan sekadar tentang nasib nelayan, tapi tentang kesehatan ekosistem laut yang kian kritis.

Ia berharap persoalan sampah ini segera mendapatkan perhatian serius.

“Semua pihak harus peduli. Mulai dari setiap pribadi yang menggunakan plastik, keluarga, masyarakat, hingga pemerintah. Semua pemangku kepentingan harus turun tangan menangani sampah plastik ini,” harapnya sambil menatap nanar ke arah tumpukan sampah yang baru saja ia keluarkan dari jaringnya.

Selama sampah plastik masih menguasai tempat tinggal ikan di pesisir Purus, selama itu pula jaring-jaring harapan para nelayan akan terus terisi beban yang tak bernilai.

Di bawah langit Padang, mereka tetap bertahan, menunggu hari di mana laut kembali bersih dan pukat mereka kembali berat oleh ikan, bukan limbah.(Redaksi swanara)

scroll to top