Kalau dipikir-pikir dan belajar dari pengalaman mulai pertamakali terjun di dunia pergerakan (tahun 1991) sampai sekarang, bangsa ini tidak akan benar-benar berubah kalau tidak ada revolusi. Percayalah dengan yang saya katakan ini.
Pejabat-pejabat rakus selamanya akan tetap rakus. Koruptor-koruptor papan atas, akan semakin naik levelnya selama kesempatan baginya masih ada. Komprador-komprador, selamanya akan tetap jadi komprador, selama ada kesempatan baginya.
Orang-orang pinggiran akan susah naik levelnya, selama mereka hidup di sistem yang sama. Hanya 1 % kemungkinan dari mereka yang bisa keluar dari sistem yang busuk, itupun biasanya setelah mereka dapatkan dari perjuangan hidup yang “gila”. Jika bukan karena itu ya karena faktor keberuntungan.
Apalagi ketika orang tinggal di suatu kultur feodalis, dimana para pendusta agama bersekutu dengan kaum borjuis yang korup, segigih apapun orang itu berjuang hidup, dia akan tetap berada di posisinya yang sama dan paling tinggi pencapaiannya hanyalah mengisi kekosongan borjuis yang mati tanpa keturunan, atau punya keturunan tapi terpaksa “tiarap” karena keadaan.
Tengoklah orang semacam Jkw yang mantan tukang kusen, IE yang mantan tukang driver online, AS yang mantan sopir truk di Tanjungpriok dll. Mereka bisa naik level menjadi pejabat-pejabat negara, namun kemudian mereka bekerja sebagaimana kaum borjuis, kapitalis penindas dan penipu lainnya, sebelum akhirnya di antara mereka ada yang tersandung korupsi dan berurusan dengan hukum.
Mereka itu dapat dikatakan hanya 1% dari orang-orang pinggiran yang akhirnya naik kelas secara financial dan status sosial, disaat mereka tengah hidup di sebuah sistem yang busuk dan belum sempat direvolusi.
Kalau ingin merubah hidup dengan menempuh jalan seperti mereka silahkan saja, tapi percayalah selain itu hal yang sangat susah, –hanya sedikit sekali yang sukses dengan cara-cara yang benar– juga berarti anda harus siap menjadi manusia durjana selanjutnya.
Ini menurut keyakinan saya, bagaimana dengan pendapat kalian?…(SHE).
29 Januari 2026.

Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik. Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (1985-1991).
Saiful Huda Ems (SHE).
