Paragon Dukung Program “ITB Peduli Sumatera”, Hadirkan Hunian Nyaman Bagi Warga di Birueun Aceh

IMG-20260916-WA0113.jpg

Aceh, Swanara.com — Rumah Amal Salman bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Paragon Corp kembali menginisiasi program pemulihan masyarakat terdampak bencana di Bireuen, Aceh, melalui pembangunan empat unit bangunan yang terdiri atas tiga hunian sementara dan satu mushala.

Fasilitas tersebut dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan tempat tinggal sekaligus mendukung masyarakat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

Program ini terwujud melalui kolaborasi lintas lembaga yang melibatkan Paragon, DPMK ITB, SAPPK ITB, Universitas Sumatera Utara (USU), Corporate Real Estate Management (CREM), Kahf, dan Rumah Amal Salman.

Kolaborasi tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terdampak sekaligus menghadirkan fasilitas yang dapat terus dimanfaatkan setelah masa pemulihan.

Tiga unit bangunan digunakan sebagai hunian sementara, dengan masing-masing unit dapat ditempati oleh dua keluarga.

Sementara itu, satu unit lainnya digunakan sebagai musala. Bangunan dirancang secara fleksibel agar dapat menyesuaikan kebutuhan masyarakat, baik selama masa pemulihan maupun ketika nantinya dialihfungsikan untuk kepentingan umum.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pembangunan adalah kecepatan konstruksi.

Arsitek ITB Andry Widyowijatnoko mengatakan konsep atap mansard yang digunakan merupakan hasil pengembangan sistem rangka yang memungkinkan bangunan dibuat dengan metode precut atau prefabrikasi, kemudian dirakit dengan durasi yang cepat di lokasi.

“Terbukti tiga rangka penuh berdiri dengan tambahan beberapa gording terpasang bisa didirikan dalam waktu hanya 3 jam 22 menit,” katanya.

Menurutnya, desain tersebut juga disesuaikan dengan kebutuhan ruang dan kondisi di lokasi, termasuk ketersediaan kayu sebagai bahan utama serta keterampilan tenaga kerja setempat.

Atap mansard memberikan volume ruang yang lebih besar sehingga dapat mendukung kenyamanan termal dan kualitas ruang.

Konsep ini juga dapat diterapkan di wilayah lain dengan menyesuaikan budaya bermukim, kebutuhan ruang, material lokal, dan keterampilan ketukangan di masing-masing daerah.

Di tengah kondisi pascabencana, kebutuhan hunian menjadi persoalan yang cukup berat bagi masyarakat Bireuen.

Keuchik setempat menjelaskan, bencana turut menyebabkan hilangnya tempat tinggal, tempat kerja, serta lahan pertanian dan kebun produktif masyarakat.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan menyewa rumah maupun membeli lahan untuk membangun tempat tinggal.

Dengan adanya hunian tersebut, masyarakat yang telah menempatinya kini dapat kembali bekerja tanpa harus memikirkan biaya sewa maupun persoalan tempat tinggal.

“Masyarakat yang sudah menempatinya sekarang sudah aktif bekerja tanpa memikirkan lagi beban sewa ataupun tempat tinggal,” ujar Keuchik, salah satu masyarakat setempat.

Pemerintah Gampong di wilayah Aceh juga akan mempertahankan manfaat bangunan tersebut dalam jangka panjang.

Selama masih dibutuhkan, bangunan akan digunakan sebagai hunian. Setelah kebutuhan tempat tinggal terpenuhi, fasilitas dapat dialihfungsikan untuk kepentingan umum, seperti ruang TK, TPA atau balai pengajian, musala, dan gudang desa.

Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang menyediakan tempat berteduh, tetapi menghadirkan ruang yang memungkinkan masyarakat kembali menjalani kehidupan dengan aman, layak, dan bermartabat.

(*)

scroll to top