Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Setelah selama 950 tahun, sebagaimana firman الله dalam Surat Al-Ankabut, Ayat 14, Nabi Nuh berdakwah dan mengajak kaumnya di wilayah _Babilonia_ untuk bertauhid dan menyembah hanya kepada الله tidak mendapatkan respons dari kaumnya, kecuali sedikit (QS : Hud, ayat 40) Nabi Nuh kemudian berdo’a : _*”Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi”*_ (QS :Nuh : 10).
Setelah Nabi Nuh berdoa agar kaumnya yang tidak beriman dibinasakan. اَللّهُ ﷻ kabulkan do’anya dan kemudian اَللّهُ ﷻ memerintahkan beliau untuk menanam pohon dan membuat perahu.
Menanam pohon sampai selesai dan membuat perahu dalam suatu riwayat dilakukan selama 40 tahun. Selama menanam pohon dan membuat perahu tersebut, kaumnya yang membangkang mengolok-olok dan mencemoohkannya, merusak perahu yang telah dibuatnya bahkan menudingnya bahwa _Nuh orang gila_ karena daerah padang pasir tidak mungkin ada perahu yang dapat dilabuhkan.
Setelah perahu selesai dibuat dengan berbagai rintangan, Nabi Nuh memerintahkan kepada keluarganya dan kaum yang beriman untuk segera menaiki perahu, Nabi Nuh pun memasukkan semua binatang ke dalam perahu. Nabi Nuh berpesan agar semua yang berada di dalam perahu tidak boleh melakukan perkawinan.
Teringat putranya, Nabi Nuh memanggil Kan’an agar naik perahu bersamanya. Nabi Nuh memanggilnya sambil berseru : _*”Wahai anakku, naiklah bersamaku dan janganlah engkau menjadi dan bersama orang-orang kafit:”*_. (QS : Hud : 41).
Kan’an dan juga salah satu dari istri Nabi Nuh yang bernama _Walaghoh_ atau yang lebih masyhur bernama _Wa’lah_ menolak bergabung dengan orang-orang yang beriman dan termasuklah dia orang yang tenggelam.
_*”Dikisahkan bahwa ukuran panjang perahu adalah 1.200 hasta atau sekitar 560 m, lebarnya 800 hasta atau 360 m, dan tingginya 80 hasta, atau setara dengan 36 m.. Satu hasta kira-kira 45 cm”*_
_*”Perahu dibagi menjadi tiga tingkat. Tingkat teratas diisi oleh binatang buas, tingkat kedua diisi binatang non buas, dan tingkat terbawah diisi oleh orang-orang yang beriman. Semua penumpang berpasang-pasangan.”*_
Ketika semua sudah berada di dalam perahu, kecuali Kan’an putra beliau, tiba-tiba terjadilah gerhana matahari yang disusul dengan turunnya hujan dari langit, sementara bumi memancarkan air dengan derasnya.
Kemudian perahu itu berlayar dan gelombang-gelombang laut menerjangnya hingga akhirnya perahu berada di Kota Mekkah, persis di sekitar Ka’bah. Perahu kemudian melakukan thowaf di Baitullah.
Sesungguhnya _Baitullah_ itu dinamakan _*Baitul Atiq*_ karena ia diselamatkan dari ketenggalaman bahtera besar.
Air terus ditumpahkan dari langit dan dari dalam bumi dipancarkan mata air dan terus naik dan menurut suatu riwayat air itu menutupi semua permukaan bumi. Namun ada riwayat lain yang mengkisahkan bahwa air hanya menutupi Jazirah Arab.
Ketika air semakin meninggi, Nabi Nuh menjadi khawatir, jika air terus meninggi tak terbendungkan, maka beliau berdo’a : _*Ya Robb, berbuat baiklah*_
Kemudian اَللّهُ ﷻ memerintahkan langit dan bumi untuk menghentikan manuver aksinya untuk menurunkan dan memancarkan air. Akhirnya perahu itu dapat berlabuh di sekitar _Bukit Judiy_ Yordania.
_*Terselamatkannya Nabi Nuh dari bahaya bahtera air selama SETAHUN lebih, terjadi pada tanggal 10 Muharram*_.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Jumat, 19 Juni 2026
04 Muharram 1446 H
_Bersambung_
