Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Tatkala Siti Hajar berdiri untuk kali terakhir di puncak _Bukit Marwah_ beliau mendengar suara. Beliau kemudian memaksa diri untuk diam dan mencoba untuk mendengarkan suara itu secara seksama.
Sambil menahan rasa gembira dan keingintahuannya, Siti Hajar berteriak : _*”Wahai, siapapun engkau. Aku telah mendengar suaramu, apakah engkau memiliki sesuatu yang dapat membantuku ?”*_
Kemudian Siti Hajar melihat ke bawah, ke arah lembah di bawahnya di lembah Nabi Ismail berada. Saat itu Siti Hajar melihat sesosok makhluk sedang berdiri di samping Nabi Ismail yang sedang kehausan. Ternyata sosok makhluk tersebut adalah _Malaikat Jibril_.
Malaikat Jibril kemudian menggunakan tumitnya untuk menyepak tanah di dekat Ismail. Secara mukjizat, tanah yang disepak Jibril tersebut muncul air dari dalam tanah yang menyebar ke segala arah. Siti Hajar dengan perasaan penuh kegembiraan, kemudian beliau bergegas menuruni puncak Bukit Marwah menuju Nabi Ismail dan mata air yang baru tercipta.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Ismaillah yang mengorek-ngorek tanah dengan tangannya yang kemudian mengeluarkan air.
Dengan perasaan penuh syukur dan gembira, sambil berlutut di depan mata air itu, Siti Hajar membuat lekukan tanah liat di sekitar air agar tidak menyebar kemana-mana. Siti Hajar kemudian mengucap *_zam zim_* atau _*zam zam*_ yang artinya diamlah.
Siti Hajar segera minum air _zam zam_. itu dan tak lama setelah itu, secara mukjizat air susunya segera muncul. Nabi Ismail pun segar kembali setelah meminum susu ibunya.
Tatkala keduanya segar kembali, Malaikat Jibril berkata kepada Siti Hajar : *_”Jangan takut akan ditinggalkan karena di tempat ini akan dibangun Rumah Allah (بيت الله) oleh anak ini dan ayahnya. اَللّهُ ﷻ tidak pernah mengabaikan ummat-Nya”_*.
Betapa besar rasa syukur Siti Hajar kepada اَللّهُ ﷻ atas karunia ini. Keimanan awalnya ketika Nabi Ibrahim menitipkan diri dan anaknya kepada perlindungan اَللّهُ ﷻ terbukti benar adanya.
Kini, mereka mempunyai persediaan air yang cukup dari _Sumur Zam-Zam_ sehingga Siti Hajar mampu mengumpulkan cukup banyak makanan dan air yang melimpah dan dapat membuat keduanya hidup dan sehat.
Beberapa saat kemudian, sekelompok _Kaum Yorhamit_ dari Suku Hadramaut (Yaman) sedang bergerak melintasi selatan menuju Mekkah. Mereka melihat dari kejauhan seekor burung gagak terbang. Para pengembara heran melihat seekor burung gagak terbang mengitari suatu tempat. Mereka menduga bahwa di sekitaran burung gagak terbang tersebut pasti ada sumber air yang cukup. Akhirnya mereka bergegas menuju lokasi tempat burung tersebut terbang.
Setelah _Suku Yorhamit_ mendekat dan menemukan sumber air tersebut, didapatinya Siti Hajar sedang duduk dipinggir sumur. Mereka mendekati Siti Hajar dan dengan sangat hormat, meminta ijin untuk tinggal di Mekkah.
Siti Hajar setuju dengan satu syarat bahwa ;: *”Kaum Yorhamit harus mengakui kepemilikan air tersebut atas nama Siti Hajar dan Nabi Ismail”*
Mereka menyetujui syarat yang diajukan tersebut dan segera kembali ke selatan, daerah asal mereka di _Hadramaut_ untuk menjemput sanak keluarga dan kerabat mereka.
Setelah mereka datang, mulailah dibangun pemukiman permanen di Mekkah. Jadi, Nabi Ismail tumbuh di lingkungan Kaum _Yorhamit_ sehingga dapat mempelajari dialek dan bahasa mereka.
والله اعلم بالصواب
┅━•❖🌳🪴🌳❖•━┅
Pondok Aren
Senin, 01 Juni 2026
15 Dzulhijjah 1447 H
_Bersambung.._
