Densus 88 Goes to School : 500 Pelajar SMKN 1 Banjarbaru Dibentengi dari Bahaya Radikalisme Di Media Sosial

BANJARBARU – Sebagai langkah preventif membentengi generasi muda dari ancaman ideologi berbahaya, Densus 88 AT Polri menggelar kegiatan edukatif bertajuk Goes to School di SMKN 1 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Selasa (06/01/2026).

Sebanyak 500 pelajar antusias mengikuti sosialisasi yang fokus pada pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET).

Tim Densus 88 AT Polri, Iptu Arini Rizkiyanti, S.H., mengungkapkan bahwa saat ini pola penyebaran paham radikal telah bertransformasi secara masif melalui ruang digital. Media sosial kini menjadi medan tempur utama bagi kelompok radikal untuk menyasar anak-anak usia sekolah.

“Anak-anak menjadi target utama karena mereka sedang dalam fase mencari jati diri, emosi masih labil, dan mudah terpengaruh oleh konten yang tersebar di media sosial,” jelas Iptu Arini dalam paparannya.

Ia menambahkan bahwa fenomena kejahatan terorisme telah bergeser dengan memanfaatkan algoritma media sosial untuk menjaring anak muda yang rentan, sehingga mereka berpotensi menjadi korban bahkan bagian dari jaringan terorisme tanpa disadari.

Senada dengan hal tersebut, Brigadir Eko Sutrisno, S.Sos., memberikan imbauan praktis agar para pelajar lebih bijak dan kritis dalam menyaring informasi di internet. Ia menekankan pentingnya menjauhi segala bentuk konten yang mengandung unsur kekerasan dan kebencian demi masa depan yang lebih aman.

“Kami ingin para pelajar memiliki filter yang kuat di dunia maya agar tidak terjebak dalam lingkaran radikalisme yang dapat merusak cita-cita mereka,” ungkap Brigadir Eko.

Guna mengukur efektivitas kegiatan, tim juga menyediakan sesi kuesioner bagi para pelajar. Hal ini dilakukan untuk memetakan sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan serta sejauh mana literasi digital mereka dalam menghadapi narasi-narasi radikal.

Melalui program ini, Densus 88 AT Polri berharap para pelajar SMKN 1 Banjarbaru dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan semangat toleransi dan kedamaian di lingkungan sekolah maupun di media sosial.(Red)

scroll to top