Densus 88 Gelar Roadshow “Ratakan Bali Pro Max” Di 70 Sekolah

img-20260416-wa0072_210375.jpg

BALI – Ancaman intoleransi, radikalisme, hingga kekerasan di era digital yang menyasar generasi muda mendapat perhatian serius dari jajaran Kepolisian Republik Indonesia.

Sebagai wujud nyata komitmen dalam memperkuat ketahanan ideologi Pancasila, Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri menginisiasi sebuah langkah strategis bertajuk program “Ratakan Bali Pro Max”.

Melalui program inovatif ini, Densus 88 menggelar roadshow sosialisasi wawasan kebangsaan secara masif yang menyasar langsung 70 sekolah tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di seluruh penjuru Provinsi Bali, terhitung mulai tanggal 13 hingga 23 April 2026.

Upaya pembentukan karakter di lingkungan pendidikan ini tidak dilakukan sendirian oleh pihak kepolisian. Densus 88 secara aktif menjalin kolaborasi lintas sektor yang kuat dengan menggandeng jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Bali, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, serta Dinas Pendidikan Provinsi Bali.

Sinergi strategis Tiga Pilar ini dibangun semata-mata untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus memastikan efektivitas penanaman nilai-nilai kebangsaan agar dapat diterima dengan baik oleh para pelajar yang menjadi sasaran utama kegiatan.

Mewakili Direktur Pencegahan Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Moh. Dofir, S.Ag., S.H., M.H., menegaskan bahwa ruang lingkup pendidikan memiliki peran krusial dalam mencetak generasi penerus bangsa yang bebas dari paparan ideologi menyimpang.

Sekolah merupakan garda terdepan dalam membangun karakter pelajar yang berintegritas, toleran, dan berjiwa nasionalis. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkuat daya tangkal pelajar terhadap paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila, ujar Kombes Pol Moh. Dofir saat memberikan arahannya kepada para peserta.

Sepanjang pelaksanaan roadshow, para siswa diberikan pemahaman yang sangat komprehensif mengenai nilai-nilai luhur Pancasila dan pentingnya merawat toleransi dalam keberagaman. Para petugas Densus 88 juga membedah secara mendalam terkait bahaya laten dari sikap ekstremisme hingga terorisme yang kerap kali menyusup dan tumbuh dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar.

Materi edukasi tersebut dirancang sedemikian rupa agar relevan dengan kondisi saat ini, sehingga pelajar memiliki bekal pertahanan mental yang kuat untuk tidak mudah terpengaruh oleh doktrin-doktrin yang memecah belah persatuan.

Lebih lanjut, program Ratakan Bali Pro Max ini juga secara khusus menyoroti fenomena perundungan atau bullying yang kian kompleks terjadi di kalangan remaja, baik itu berupa kekerasan fisik, verbal, maupun siber. Aparat kepolisian membedah benang merah antara perilaku perundungan tersebut dengan pembentukan mentalitas radikal pada masa pertumbuhan anak usia sekolah.

Intoleransi dan bullying dapat menjadi pintu masuk menuju radikalisme jika tidak ditangani sejak dini. Oleh karena itu, edukasi dan deteksi dini menjadi kunci utama pencegahan, tegas Kombes Pol Moh. Dofir memberikan peringatan kepada seluruh elemen sekolah.

Sebagai hasil akhir dari rangkaian kegiatan edukatif dan interaktif ini, Densus 88 Antiteror Polri mendorong para pelajar untuk berani mengambil inisiatif dan bertransformasi menjadi agen perubahan di lingkungan mereka masing-masing. Mereka diajak untuk aktif menanamkan empati sosial, merawat persatuan, serta mengasah ketajaman berpikir kritis dalam menyaring setiap informasi yang membanjiri ruang digital.

Melalui langkah konkret yang menyentuh langsung akar rumput ini, institusi Polri menaruh harapan besar agar generasi muda Indonesia kelak tumbuh menjadi sosok yang tangguh, berkarakter mulia, serta memiliki benteng ideologi kecintaan yang tak tergoyahkan terhadap Tanah Air.(Redaksi swanara)

scroll to top