DENPASAR – Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror (AT) Polri memperkuat sinergi dengan dunia pendidikan guna memutus mata rantai penyebaran paham radikal di kalangan remaja.

Hal ini diwujudkan melalui Workshop bertajuk “Antisipasi Pengaruh Paham Radikalisme dan Fanatisme Kekerasan di Lingkungan Sekolah” yang digelar di Aula SMP Negeri 2 Denpasar, Kamis (8/1/2026).
Kegiatan yang berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar ini dihadiri oleh sedikitnya 200 peserta. Mereka terdiri dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Pengawas Sekolah, serta Guru Bimbingan Konseling (BK) tingkat SMP di seluruh Kota Denpasar.
Kepala Disdikpora Kota Denpasar menegaskan bahwa lingkungan pendidikan harus menjadi zona aman dari pengaruh ideologi berbahaya. Ia menekankan pentingnya deteksi dini yang dilakukan oleh para tenaga pendidik.
“Kami berharap seluruh peserta menyimak dengan baik materi yang disampaikan narasumber agar mampu memahami dan mengantisipasi sejak dini segala bentuk radikalisme dan fanatisme kekerasan di sekolah masing-masing,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Dalam sesi pemaparan, Tim Pencegahan Densus 88 AT Polri, Ipda Hadi Nata Kusuma, mengungkap bahwa pola penyebaran paham radikal kini telah bertransformasi ke ranah digital yang sangat akrab dengan keseharian anak di bawah umur.
Ia menjelaskan bahwa selain melalui pergaulan fisik, konten radikal kini menyusup melalui celah-celah teknologi yang sulit terpantau orang tua secara langsung.
“Penyebaran paham radikal tidak hanya melalui ceramah atau pergaulan, tetapi juga melalui konten digital dan gim online. Karena itu, kolaborasi guru dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan menjadi kunci utama pencegahan,” tegas Ipda Hadi Nata Kusuma.
Melalui workshop ini, Satgaswil Bali Densus 88 AT Polri berkomitmen untuk terus menjalin kerja sama masif dengan Disdikpora.
Harapannya, para pendidik yang hadir dapat menjadi perpanjangan tangan untuk meneruskan pesan-pesan pencegahan kepada:
Para guru di lingkungan sekolah.
Siswa-siswi secara personal maupun klasikal.
Orang tua/wali murid melalui komunikasi sekolah.
Kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan imunitas bagi siswa terhadap pengaruh radikalisme, sehingga tercipta lingkungan pendidikan di Bali yang aman, toleran, dan kondusif.(Redaksi swanara)
