Situbondo – Napak Tilas Isyarah Pendirian Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, mengajarkan tentang pemimpin yang amanah, yakni bertanggung jawab, jujur, adil, dan mengutamakan kepentingan umum.

“Saya belajar arti sebuah amanah menjadi seorang pemimpin melalui Napak Tilas Isyarah Pendirian Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini,” ujar Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Minggu (4/1/2026).
Bupati mengemukakan bahwa yang terjadi dalam sejarah berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama berawal dari Kiai As’ad Syamsul Arifin yang mendapat perintah dari gurunya Syaikhona Muhammad Kholil, Bangkalan.
“Jadi, Kiai As’ad Syamsul Arifin ini mendapat amanah dari Syaikhona Muhammad Kholil untuk menyampaikan amanah kepada Kiai Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng,” ucap Bupati Rio yang pernah tercatat sebagai anggota LPNU Jakarta Utara 2021-2023 itu.
Kiai As’ad Syamsul Arifin mendapat amanah berupa pesan spiritual dengan simbol tongkat dan tasbih kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sebagai isyarat restu untuk mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
“Kita bisa belajar di sini ya bahwa Kiai As’ad menjaga betul amanahnya. Bahkan tasbih yang dikalungkan oleh Syaikhona Muhammad Kholil ke leher beliau, sepanjang perjalanan tidak dicopot. Itu bagian dari kepemimpinan bahwa pemimpin itu harus amanah,” ungkapnya.
Menurut Bupati Rio, sosok Kiai As’ad Syamsul Arifin tidak hanya meneladankan soal kepemimpinan namun juga tentang spirit perjuangan terhadap penjajahan kala itu bersama Hadratus syekh KH Hasyim Asy’ari.
“Yang saya teladani dari beliau, selain kepemimpinan juga spirit perjuangan terhadap penjajahan, sangat luar biasa,” ucapnya.
Napak Tilas Isyarat Pendirian Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dilakukan untuk menelusuri jejak sejarah berdirinya NU yang dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura, menuju Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Kegiatan ini melibatkan dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, serta dzurriyah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang.
Cucu Kiai As’ad Syamsul Arifin yakni KHR Achmad Azaim Ibrahimy, berperan sebagai Kiai As’ad kala itu, membawa tongkat dan tasbih sebagai isyarat dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang diperankan oleh RKH Fakhruddin Aschal, salah satu cicit Syaikhona Kholil.
KHR Achmad Azaim Ibrahimy berjalan kaki dari titik start napak tilas di Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, menaiki kapal dari Pelabuhan Kamal Bangkalan, menuju Pelabuhan Perak Surabaya, menuju makam Sunan Ampel kemudian berakhir di Pesantren Tebuireng.(Redaksi swanara)
