Oleh : Ibnu Hajar Mahbub
Hari ini kita sudah memasuki tahun baru Hijriah, tahun yang tidak banyak diketahui dan dihafal oleh mayoritas Ummat Muslim tentang nama-nama bulan di tahun Hijriah. Apalagi sejarah tentang penamaan kalender Islam dengan nama “Tahun Hijriah” tidak banyak dikenal karena nama-nama bulan Hijriah tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah umum.
Berbeda dengan _Tahun Masehi_ yang telah diketahui dan dihafal oleh mayoritas ummat manusia diantero dunia. Penamaan tahun masehi diambil dan dimulai saat Nabi Isa lahir dengan sebutan tahun 1 Masehi (M) dan sebelumnya dengan sebutan tahun Sebelum Masehi (SM).
Sementara orang-orang Arab waktu itu menggunakan sistem _“Tahun Kejadian”_, seperti Tahun Gajah yang merupakan tahun kelahiran RosuluLLOH, tahun wafatnya Nabi saat Rosulullah wafat, Tahun Perang Khandaq saat terjadi Perang Khandaq, , dan lain-lain. Tidak ada angka 1, 2, 3 Hijriah.
Masalah muncul di zaman Kholifah Umar bin Khattab RA ketika ada surat dari _Abu Musa Al-Asy’ari, Gubernur Mesir_ kepada Khalifah Umar. Isinya: _*“Sudah datang surat dari Amirul Mukminin tanpa tanggal. Kami tidak tau surat ini bulan apa, tahun berapa ?”*_.
Kholifah Umar kaget. maka beliau kumpulkan sahabat RosuluLLOH yang masih ada untuk bermusyawarah.
Kholifah Umar bertanya :_*“Kita akan memulai tahun dari mana ?”*_
Ada empat usulan dari para sahabat yang hadir :
_Pertama_, dari tahun kelahiran RosuluLLOH ﷺ. Usulan ini tidak diterima oleh para sahabat yang hadir dengan alasan takut RosuluLLOH dikultuskan oleh ummatnya sebagaimana ummat Nasrani yang mengkultuskan Nabi Isa, sampai-dampai Nabi Isa dituhankan.
_Kedua_, dari tahun turunnya wahyu pertama kepada RosuluLLOH ﷺ. Usulan ini juga tidak diterima dengan alasan waktu wahyu pertama turun, Islam belum kuat dan belum berkembang, masih banyak tantangan dari Kafir Quraisy.
_Ketiga_ saat RosuluLLOH ﷺ wafat. Ini juga tidak diterima oleh para sahabat dengan alasan akan membuat ummat Islam bersedih, jika setiap tahun dingingatkan dengan hari wafatnya RosuluLLOH ﷺ.
_Keempat_. Dari tahun hijrahnya RosuluLLOH ﷺ ke Madinah. Usulan ini disampaikan oleh Sahabat Utsman bin Affan dan Sahabat Ali bin Abi Thalib yang akhirnya diterima oleh Kholifah Umar bin Khattab dan sahabat lainnya yang hadir dengan alasan paling kuat.
Hijrah itu pembeda antara yang haq dan yang bathil, dari Islam yang lemah menjadi Islam yang kuat, dari Mekkah menjadi Madinah sebagai awal berdirinya negara Islam.
Sayyidina Ali berkata :_*“Hijrah itu memisahkan antara yang haq dan yang bathil, maka jadikanlah dia awal penanggalan”*_.
Lalu bulannya mulai dari Muharram, padahal RosuluLLOH ﷺ hijrahnya pada bulan Rabiul Awal. Kenapa tahun barunya diambil bulan Muharram?
Saat Kholifah Umar bin Khattab memutuskan peristiwa penting itu terjadi pada bulan Rabiul Awal. Seandainya tahun baru Islam dimulai pada bulan Rabiul Awal, maka tahun itu menjadi kecil. Biar rapi, mereka memundurkan ke awal tahun Arab yaitu Muharram. Jadi 1 Muharram tahun 1 Hijriah, mundur dua bulan ke belakang secara hitungan.
Demikian mulianya Tahun Hijriah, الله menutup tahun HIJRIAH dengan bulan HURUM yaitu bulan Dzulhijjah dan الله membukanya juga dengan bulan HURUM yaitu bulan Muharram.
والله اعلم بالصواب
Pondok Aren
Selasa, 16 Juni 2026
01 Muharram 1448 H
