JAKARTA — PERNYATAAN Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, yang mengaku mampu menggerakkan puluhan ribu anggotanya hanya dengan sekali panggil menuai sorotan publik di tengah polemik dugaan intimidasi dan persekusi yang menyeret nama dirinya dan anggota organisasi tersebut.
Klaim kekuatan massa itu memunculkan perdebatan mengenai batas kebebasan berorganisasi serta kewibawaan negara dalam menegakkan hukum.
Sorotan terhadap Hercules mencuat setelah dirinya bersama sejumlah pihak dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan tindak pidana penculikan, penyekapan dan ancaman terhadap seorang perempuan yang merupakan putri penulis Ahmad Bahar.
Kasus bermula dari dugaan peretasan akun WhatsApp yang kemudian digunakan untuk mengirim pesan bernada makian kepada pihak tertentu.
Orang yang diduga terlibat dalam peretasan tersebut disebut didatangi dan dibawa secara paksa ke markas GRIB Jaya di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, untuk diinterogasi langsung oleh Hercules.
Tindakan membawa warga sipil ke markas organisasi kemasyarakatan tanpa proses hukum resmi, dinilai sejumlah pihak sebagai bentuk main hakim sendiri.
Peristiwa ini memicu kekhawatiran masyarakat terkait supremasi hukum dan potensi pengaruh kelompok massa terhadap proses penegakan hukum.
Di tengah kritik yang berkembang, Hercules membantah GRIB Jaya merupakan organisasi preman dan menegaskan pihaknya tidak kebal hukum. Ia menyatakan selalu memilih jalur hukum apabila merasa dirugikan.
Dalam konferensi pers di markas GRIB Jaya, Minggu (24/5/2026), Hercules juga mengaku telah berbicara langsung melalui sambungan telepon dengan mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
“Tadi saya menelepon abang saya, panutan saya, bapak haji, dan saya menyampaikan berita-berita ini. Beliau juga marah. Beliau tidak mendukung hal-hal seperti itu, apalagi membawa-bawa nama Muhammadiyah,” ujar Hercules.
Menurut Hercules, Din Syamsuddin menegaskan bahwa Muhammadiyah harus membela pihak yang benar dan melindungi seluruh masyarakat tanpa membedakan agama maupun golongan.
“Bukan orangnya atas nama orangnya, mencaci-maki orang atas nama Muhammadiyah, itu tidak boleh,” kata Hercules menirukan pernyataan Din Syamsuddin.
Hercules juga mengaku dalam waktu dekat ia akan bertemu dengan Din Syamsuddin, untuk dipertemukan dengan Amien Rais guna meredakan polemik yang berkembang.
“Saya bilang siap pak kiai. Terima kasih banyak kalau memang kakanda mau mempertemukan saya dengan Pak Amien. Dengan senang hati supaya tidak dianggap ada ancam-mengancam dan teror-meneror,” tuturnya.
kuasa hukum pelapor, Gufroni, tetap menolak penjelasan yang disampaikan Hercules. Ia menegaskan laporan yang dibuat kliennya didasarkan pada bukti dan kesaksian yang dinilai kuat.
“Bukti fisik, keterangan saksi dan dampak psikis klien kami nyata ada. Pengakuan atau siapa yang menelepon beliau, tidak mengubah fakta hukum bahwa tindakan penyekapan dan intimidasi itu benar-benar terjadi,” ujarnya.
Pihak Polda Metro Jaya menyatakan penyelidikan perkara dilakukan secara berimbang dengan memeriksa seluruh pihak terkait. Polisi menegaskan akan mengumpulkan seluruh alat bukti sebelum menentukan langkah hukum lebih lanjut.(Hidayat)
